BERKULIAH di kampus bukanlah hal mudah. Kali pertama saya menginjakkan kaki di Surabaya, ada semangat menggebu-gebu di dalam dada. Setiap hari saya penasaran dengan perkuliahan di jurusan Teknik Material dan Metalurgi kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Karenanya, tak henti-henti saya melontarkan pertanyaan pada senior.

Ketika mengikuti masa orientasi, saya dikenalkan dengan berbagai kegiatan kampus yang dapat diikuti oleh seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa baru. Yang menarik bagi saya, tersedianya program internasionalisasi yang digalakkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kerjasama dan Hubungan Internasional, atau sering disebut  ITS International Office (IO).

Dari pengenalan masa orientasi, ternyata program internasionalisasi IO semakin merambah menjangkau mahasiswa lewat induksi di berbagai program lainnya. Sebagai mahasiswa baru, saya diwajibkan mengikuti berbagai program dan pelatihan dan dalam kegiatan itu. Topik utama tak pernah lepas dari internasionalisasi yang terus digalakkan IO. Wajar saja, saat itu, ITS  masih menyiapkan diri mengikuti ASEAN Economy Community (AEC).

Salah satu program internasionalisasi ITS adalah menyediakan platform bagi mahasiswa untuk merasakan atmosfer internasional. Hal ini diwujudkan dengan membuka berbagai peluang untuk studi ke luar negeri. Mendengar hal itu, saya yang tergila gila dengan pendidikan luar negeri, langsung jatuh cinta pada setiap kegiatan IO.

Saya mengikuti berbagai seminar, pelatihan, dan sesekali singgah ke kantor IO sekadar untuk bertanya tentang kesempatan mengikuti program internasional IO. Terdapat berbagai program beasiswa yang ditawarkan bagi saya, seperti konferensi internasional, konferensi pemuda, pertukaran budaya, program riset internasional, kunjungan kampus luar negeri, dan bahkan terdapat program pertukaran pelajar selama satu semester ataupun setahun.

Tertarik dengan pengalaman tinggal di negeri orang, saya pun memilih mencoba beasiswa pertukaran pelajar selama satu semester. Ternyata tak mudah menjebol program ini. Saya dihadapkan dengan berbagai penolakan dan kegagalan.

Beasiswa pertama yang saya lamar adalah pertukaran pelajar ke Dankook University di Korea Selatan. Saat itu, saya belum memiliki paspor dan nekat mengumpulkan dokumen yang dengan tegas menyaratkan kelengkapan paspor. Otomatis, aplikasi saya pun ditolak untuk pertama kalinya.

Seusai penolakan itu, saya tak lagi mencoba  beasiswa sebelum memiliki paspor. Saya memilih belajar bahasa Inggris menunggu liburan semester untuk pulang ke Toba mengurus paspor.

Selama satu semester saya belajar bahasa Inggris dengan harapan dapat menaikkan nilai TOEFL.  Saat kelas tiga SMA, saya coba tes TOEFL prediction di USU dengan nilai 443. Ketika di ITS, saya mendapat TOEFL 447. Namun, untuk mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar, minimal saya harus memiliki skor TOEFL 500.

Hal itulah yang mendorong saya rela bolak-balik ke UPT Bahasa dan Budaya ITS untuk sekadar melatih listening dan mengambil foto soal-soal TOEFL karena tak bisa dipinjam ataupun difotokopi.

Berbulan bulan saya harus bergelut dengan soal-soal itu. Karena tak ada uang untuk les bahasa Inggris. Saya harus belajar otodidak. Saya meminjam berbagai jenis buku dari perpustakaan dan latihan di UPT Pusat Bahasa dan Budaya ITS. Saya juga semakin sering berselancar di internet mencari tau berbagai program pertukaran pelajar.

Ketika liburan semester ganjil 2014, saya pulang kampung ke Desa Tambunan Parbagasan, Kampung Halaman saya. Sebelum kembali ke Surabaya, saya  menyempatkan singgah di Medan seminggu untuk mengurus paspor. Hingga akhirnya ketika terbang ke Surabaya, saya sudah memiliki paspor.

Sesampainya di Surabaya, saya masih melanjutkan belajar TOEFL menunggu pengumuman pembukaan beasiswa baru. Ketika sudah merasa penat belajar, saya pun mencoba tes dan berhasil mendapatkan skor 507. Dengan modal itu, saya semakin percaya diri mengikuti seleksi beasiswa.

Seleksi kedua yang saya ikuti adalah beasiswa pertukaran pelajar ke Kumamoto University di Jepang. Untuk mendaftar beasiswa ini, saya mengorbankan waktu belajar menghadapi ujian semester demi menyiapkan dokumen. Selain itu, saya pun harus mengeluarkan kocek ratusan ribu untuk mendapatkan sertifikat kesehatan, sebab aplikasi yang tidak lengkap akan digugurkan secara otomatis oleh panitia.

Meski demikan, beasiswa ini juga masih belum memberikan kesempatan bagi saya. Saking penasaran dengan seleksinya, saya menjumpai panitia dan menanyakan kualifikasi mahasiswa yang berhasil mendapatkan beasiswa.

Ternyata lebih dari seratus dua puluh mahasiswa mencoba beasiswa ini, meski kuota yang tersedia hanyalah untuk dua orang saja. Program ini betul-betul kompetitif. Selain itu, kedua orang yang mendapatkan beasiswa tersebut memiliki IPK di atas 3,8. Saya pun hanya menelan ludah ketika mengetahui IP mereka yang bertengger jauh di atas IP saya yang saat itu hanya 3,4.

Saking kesalnya dengan IP saya, saya pun mencari tau tips & trik untuk mendapatkan beasiswa dengan IP pas-pasan. Dari berbagai sharing pengalaman dan diskusi, saya disarankan untuk memoles Motivation Letter, Curriculum Vitae, dan Recommendation Letter saya.  

Ketika mempelajari cara memoles ketiganya, saya pun sadar betapa buruknya motivation letter saya diaplikasi sebelumnya. Karena itulah saya pun semakin sering membaca contoh motivation letter untuk mempersiapkan aplikasi saya yang berikutnya.

Beasiswa ketiga yang saya coba adalah pertukaran pelajar ke University of Porto,  di Portugal. Salah satu persyaratan administrasinya adalah memiliki IELTS 6.5. Saat itu saya masih nekat mengumpulkan dokumen dan menggantikan IELTS dengan sertifikat TOEFL saya. Kala itu saya berharap memiliki peruntungan besar dengan pengecualian pada sertifikat bahasa saya. Namun ketika pengumuman, saya hanya ditempatkan di jajaran cadangan penerima beasiswa.

Ketika pertengahan semester lima, saya semakin bosan dan sempat menyerah dengan  aplikasi beasiswa saya. Saya sempat berjanji untuk apply beasiswa satu kali lagi sebelum betul-betul berhenti, karena harus mempersiapkan tahun akhir.  Saat itu saya berencana lulus tiga setengah tahun.

Setelah saya mengikrarkan janji itu, beasiswa yang pertama buka adalah beasiswa dari Dankook University. Untuk kedua kalinya sayapun mencoba beasiswa ini. Dari puluhan pelamar, panitia menyaring lima mahasiswa yang berhak mengikuti seleksi wawancara dan salah satunya adalah saya.

Ketika mengikuti wawancara  saya sangat mempersiapkan diri dan tampil dengan tenang ketika menjawab pertanyaan interviewer. Namun saya kebingungan ketika ditanya jika ternyata beasiswa tidak ada, apakah saya akan tetap mengambil program ini.

Sontak saya kebingungan menjawabnya. Saya pikir, orangtua saya, yang hanya berprofesi petani,  tak akan sanggup membiayai hidup saya selama di Korea.  Saya pun memilih jawaban diplomatis bahwa saya akan tetap mengambil program tersebut dengan mencari perusahaan sebagai sponsor saya.

Seminggu kemudian pengumuman keluar dan saya lagi-lagi ditolak. Tak selesai di situ, saya masih penasaran dengan jawaban pertanyaan itu. Saya menjumpai mahasiswa yang berhasil mendapatkan beasiswa tersebut dan bertanya kasus yang sama. Ternyata orangtuanya siap menanggung semua pengeluaran jika memang beasiswa tidak turun dari pemerintah Korea Selatan.

Saya sangat merasa tak adil dengan hal itu. Sebab saya pikir tak seharusnya pertanyaan itu dilontarkan untuk program berbeasiswa. Saat itu saya betul-betul  menyerah dan putus asa. Sayapun mengeraskan hati untuk tidak mengikuti seleksi beasiswa lagi. Saya ingin fokus untuk setahun terakhir sebelum saya lulus.

Namun di tengah merosotnya semnagat saya, IO tiba tiba mengumumkan penerimaan aplikasi pertukaran pelajar ke Chulalongkorn University, kampus nomor satu di Thailand.  Program ini betul-betul menarik karena penerima beasiswa akan di tempatkan di International School of Engineering (ISE).

*bersambung ke Berburu Beasiswa Internasional part 2

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s