The Lighthouse and The Sea

Memasuki semester akhir, pikiranku semakin bercabang. Tawaran beasiswa dan pilihan tujuan hidup semakin abu abu. Apakah pada akhirnya harus cari kerja, lanjut pendidikan, atau terbang ke negara asing untuk belajar bahasa.

Hari ini, disela sela sibuknya mengerjakan proposal TA, aku menympatkan sedikit waktu untuk kembali bersaat teduh. Sedikit merenung tentang topik Mercusuar hari ini.

Aku membayangkan kehidupan ditengah laut sebagai kehidupan yang romantis. Dikala siang, yang terlihat adalah hamparan air biru cerah yang menyejukkan. hembusan angin yang menderu di dinding kapal menjadi teman berbincang. Dikala mentari sudah kembali keperaduannya, keindahan itu diganti dengan hadirnya ribuan sahabat yang berbisik dari kemilau cahayanya yang tampak dari kejauhan.

Dalam seketika, romantisme laut bisa berubah menjadi mimpi buruk yang tak dapat terbendung. Aku membayangkan diri di tengah tengah lautan dengan ombak bergejolak tinggi. Angin menebas dinding perahu membelah, mencabik cabik lautan dan menghempaskan perahu kesana kemari. Sangat mengerikan.

Dalam kondisi demikian, sulit rasanya bertahan. Tak ada pertolongan dari luar. Tak ada pula hal yang dapat dilakukan untuk mengehentikannya.  Hanya bisa menunggu ia meredam emosi, kembali menjadi lautan dengan sejuta kasihnya.

Kala kesesakan ditengah lautan, kita juga mendapatkan kembali harapan ketika melihat seberkas cahaya mercusuar. Jika kita telah melihatnya, emosi kembali bergejolak untuk kembali berjuang, mendayung perahu kearahnya. panggilannya seakan cukup untuk membuat kita melabuhkan perahu disisinya.

Mercusuar selalu melahirkan harapan ketika kita sedang terpuruk ditengah lautan. Ia menjadi pemantik semangat dikala kita  tak tau harus berbuat apa. Ia juga menuntun kita dikala kita hilang harapan. Ia menyelamatkan hidup ribuan orang yang terhilang.

Begitu juga hidup yang kurasakan saat ini. Terhempas kesana kemari. jatuh tenggelam dan dilemparkan kembali ke permukaan. Bisikan dan godaan semakin kental dan hidup semakin tak terarah.

Cahaya mercusuarnya belum nampak. Kilatannya tak pernah mengelus perahu melewati celah celah papan. Hanya harapan dan doa yang meneguhkan. Biarlah waktu yang menjadi saksi diantara kami. Kala nanti ia nampak, aku akan memandang padanya. mendayung perahu kearahnya, bersandar di dindingnya, dan menaruh harapan hidup di puncaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s