Hari ini Tuhan beri kesempatan kembali mengikuti perayaan paskah alumni perkantas. Sungguh Tuhan berkati aku mengenal Kak Herna dan Kak Meli. Bersama mereka, kami bersama sama ke GKI Pregolan Bunder.

Hari itu, aku sedikit lebih santai sehingga punya banyak waktu mencari info tentang studi lanjut maupun info tentang pengembangan diri. Banyak hal yang kumimpikan untuk aku lakukan dalam waktu dekat ini. Semua demi kesuksesan, keberhasilan, dan kelak aku bisa menjadi orang besar. Dipandang baik dan memiliki derajat yang lebih tinggi di masyarakat.

Seperti biasa, aku selalu menanti nantikan kotbah Kak Harry Limanto. Ia memang selalu berbeda dengan evangelis yang lain. Kalimatnya selalu menusuk, tepat sasaran dan selalu membuat saya terpaku.
Disaat aku memimpikan kuliah tinggi di luar negeri, mengejar karir hingga di PBB atau menjadi associate professor di Amerika, ia membuka perspektif lain.

Kembali, mengingat ketertinggalan Papua, Kalimantan dan daerah daerah pelayanan lainnya, aku merasa bukan siapa siapa. Banyak kekurangan fasilitas, teknologi, SDM dan tenaga pelayan lainnya di kota kota tertinggal di timur.

Kota kota tersebut menjadi kota kota yang tidak mengenal Tuhan karena kurangnya orang yang menyerahkan diri untuk melayani. Tak hanya itu, orang orang yang mau mambantu finansial mupun materi tak mau mengarahkan pandangan demi misi Tuhan. Hanya sedikit yang dibukakan untuk misi ini. Sungguh, aku merasa sangat sedih.

Hari ini, aku masih pegang 3 juta sisa uang untuk TA. Karenannya, aku beranikan diri ambil bagian dalam hal ini. Aku berkomitmen mendukung Misi Papua dan misi membangun Rumah Persekutuan di Wamena. Aku akan belajar berkomitmen melalui doa dan persembahan. Mungkin belum banyak yang bisa aku bantu dari persembahan, tapi biarlah aku belajar memulai hal seperti ini mulai dari sekarang. Komitmenku selama 6 bulan terdekat ini, kiranya Tuhan yang selalu megningatkan.

Selain itu, Kak Harry juga mengingatkan kekudusan diri sebagai Anak Anak Allah. Bukan karena kristiani makanya kudus. Tetapi karena Dia yang telah memanggil kita adalah kudus, makanya kita harus kudus juga. Susah memang, tapi apa salahnya belajar mendisiplinkan diri menjadi pribadi yang menjaga kekudusan diri?

Sebab, Ia juga telah menebus hidup keberdosaan kita melalui darahnya yang kudus. nature kita sebagai manusia berdosa diganti menjadi nature Allah yang kudus. Jadi, mungkin kan kita hidup kudus. Yah, kira kira begitu.

Langkah riil yang aku ambil dari kotbah ini adalah menjaga kekudusan dengan disiplin saat teduh, disiplin doa, dan memusatkan semua hal dalam Tuhan. Selian itu untuk misi, aku akan belajar membantu doa dan komitmen persembahan. Mungkin tidak seberapa, tetapi yang penting adalah belajar melahirkan membudayakan memberi sebelum menjadi kaya dan menjadi orang orang yang memperhitungkan nilai perpuluhan. semoga tidak jadi orang demikian.

Oiya, selamat paskah buat semua. Semoga paskah kali ini menjadi turning point untk kembali hidup baru, menjadi segar kembali dalam semangat mencari Tuhan dan menjalankan misi pelayanan. Tuhan berkati.

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s