RESENSI: #STRUGGLES

 

“Kita diciptakan bukan untuk bumi, melainkan kekekalan. Kita diciptakan bukan untuk disukai melainkan memperlihatkan kasih. Kita diciptakan bukan untuk menarik perhatian kepada diri sendiri melainkan memberikan kemuliaan bagi Allah. Kita diciptakan bukan untuk mengumpulkan followers, melainkan untuk follow Kristus”

 #Struggles adalah buku terbaru yang ditulis oleh Craig Groeschel, seorang pendiri dan pendeta senior di LifeChurch.tv. Buku ini ditulis atas fakta banyaknya orang yang merasionalkan keintiman teknologi gadget dalam kehidupan bersosialisasi. Menurut Craig, tak sedikit orang yang secara tidak sadar telah memperhambakan dirinya terhadap gadget mereka, namun tidak mau benar benar sembuh dari cengkeraman teknologi itu sendiri. Ia memandang bahwa, dengan adanya sosial media saat ini, banyak orang menjadi lebih berpusat pada diri sendiri dan meninggalkan Kristus dalam hidupnya.

Dalam penulisan bukunya ini, Craig mengambil beberapa kenangan yang ia miliki dimana ia banyak melewatkan momen penting hanya karena pengaruh gadget dalam genggamannya. Menurut saya, buku ini sangat relevan dengan kondisi kehidupan sosial saat ini. Saya sebagai pengguna aktif sosial media merasa buku ini secara jujur menguak sisi negatif penggunaan sosial media yang secara tidak sadar terlalu sering dimaklumi masyarakat. Secara telaten ia membuka sisi lain kehidupan sosialisasi yang berubah dengan adanya aplikasi sosial media saat ini.

Buku ini dengan jelas mempertanyakan kesungguhan hati pembaca untuk meninggalkan ketuhanan mereka terhadap teknologi. Selain mempertanyakan kesungguhan hati, Craig juga menawarkan kesembuhan rohani melalu langkah terjun langsung pada komunitas dan berinteraksi secara natural dan memperkaya diri dengan komunikasi yang intim dengan sesama teman. Melalui buku ini, Craig juga secara tegas ingin mengatakan betapa pentingnya kita untuk terdiskoneski dengan sosial media dan memulai menjalin hubungan yang nyata bersama teman.

Secara mendalam ia mengevaluasi cara kita terjalin saat ini. Mulai dari mengirimkan pesan, tweet, hingga timbulnya perasaan ogah untuk berjumpa langsung. Craig ingin mengajak pembaca kembali pada kehidupan kristiani yang saling menguatkan melalui kebiasaan interaksi langsung, sharing pergumulan hingga memberikan kontak fisik yang menenangkan kita dari kedukaan.

Dalam buku ini, Craig tidak serta merta mengutuk sosial media, tetapi mengajarkan kita bagaimana menggunakan media itu sesuai dengan fungsinya. Dengan mengangkat pengalaman pengalaman pribadi, ia secara perlahan mengajak pembaca bernalar logika mengoreksi kehidupan yang saat ini telah berakar pada individualisme.

Buku ini mudah dimengerti dan dipahami oleh pembaca dari semua kalangan. Penulis secara telaten memasukkan contoh riil yang ia temukan dalam kehidupan pribadinya. Contoh contoh tersebut juga mudah ditemukan dalam kehidupan kita pada umumnya, namun kita kurang jeli dengan hal itu.

Buku setebal 250 halaman ini, terbagi dalam delapan jenis pergumulan yang secara garis besar menggambarkan kehidupan kristiani yang terkikis oleh aktivitas sosial media yang saat ini mewabah. Mulai dari pergumulan dengan membanding bandingkan, hingga pergumulan dengan distraksi yang tiada henti, penulis Divine Direction ini menawarkan solusi aplikatif berdasarkan pemahaman alkitabiah yang fundamental.

Membaca buku ini, rasanya seperti berkomunikasi dengan banyak orang dengan perspektif yang berbeda. Untuk memulai setiap bab, Craig selalu menyematkan empat pendapat dari orang orang tertentu terkait bab yang akan ia bahas. Beberapa diantaranya adalah Alfred Nobel, Bunda Teresa, Frederick Buecher, Oprah Winfrey. Pembahasannya selalu diakhiri dengan pesan alkitabiah yang secara tegas dan lugas mengajak pembaca untuk kembali berpegang pada firman.

Buku ini cukup menarik karena dilengkapi dengan berbagai hastag. Dari pada menambah hastag pada sosial medianya, Craig lebih memilih menuliskan hastag pada tulisannnya dalam buku ini. Hastag-hastag tersebut menjadi poin poin penting yang ingin ia sampaikan pada bab dimana ia menempatkan hastag tersebut. Yang paling menarik dari buku ini adalah adanya kesimpulan serta lampiran yang salah satunya adalah langkah pengamanan terhadap distraktor online dari sosial media. Jika Anda tidak mau menyembah sesuatu yang tidak pernah memuaskan Anda, maka bacalah buku ini.

“Kesembuhan terjadi ketika hasrat kesembuhan lebih besar dari ketidakmampuan itu sendiri”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s