Maksimalkan Modernitas Pendidikan, Raih Banyak Prestasi Di Era Millenial

Hegemoni pendidikan dalam menopang fondasi masa depan tak bisa dipungkiri. Pendidikan yang semakin modern memiliki otoritas dalam membentuk kesuksesan para pelajar generasi Millenial. Lalu, bagaimana sebaiknya para Millenial memanfaatkan potensi modernitas dalam mempersiapkan masa depan yang lebih cerah?

Generasi Millenial adalah generasi yang dipersiapkan dengan modernitas pendidikan yang mengadopsi berbagai macam latar belakang budaya pendidikan hingga disatukan menjadi pendidikan modern.

Pendidikan modern yang disajikan bagi generasi Millenial adalah pendidikan yang menunjang humanisasi dan harmonisasi masyarakat  sesuai dengan tuntutan zaman. Seperti yang dijelaskan Prof. Dr. Muhammad Nuh, DEA pada Simposium Internasional PPI Timur  Tengah – Afrika pada April silam,  seiring dengan berkembangnya pendidikan modern, generasi Millenial lahir menjadi generasi yang menyukai modul pendidikan dibandingkan teori-teori berkepanjangan.

Ini menunjukkan, generasi Millenial dituntut menjadi kreatif menerjemahkan modul-modul terpisah menjadi satu kesatuan ilmu yang universal. Hal seperti ini, oleh Bill Gates disebut Connecting The Dots. Selain memanfaatkan modul modul pendidikan, generasi Millenial juga dapat mengoptimalkan potensi dengan   memanfaatkan teknologi informasi.

Salah satu  keahlian Millenial adalah memiliki insting kuat dalam mengoperasikan teknologi modern seperti gadget dan berbagai peralatan elektronik lainnya. Hal ini sebenarnya mampu menunjang prestasi Millenial. Dengan kemampuan mengoperasikan peralatan elektronik, para Millenial lebih cepat memperoleh informasi dan mengolahnya menjadi sebuah prestasi.

Selain itu, melalui pendidikan modern yang menawarkan pendidikan dunia maya, Millenial memiliki kesempatan belajar yang tidak terbatas. Ada banyak kesempatan belajar yang ditawarkan secara gratis dalam dunia maya. EDX, IndonesiaX , Coursera, Moocs,  dan beberapa platform lain adalah contoh yang sering digunakan Millenial. Melalui platform-platform ini, para  Millenial dapat mendobrak perbudakan kebodohan dalam zaman modern ini.

Disamping kebebasan mengakses pendidikan luar sekolah, para Millenial juga memiliki kebebasan tak terbatas mengakses kesempatan mengikuti program pelatihan, program pendidikan singkat, maupun informasi beasiswa. Melalui berbagai platform online, para Millenial dapat terhubung dengan  jutaan kesempatan belajar yang mana tak sedikit yang menawarkan program secara cuma-cuma.

Dalam sistem pendidikan modern, para Millenial juga diajarkan belajar berdasarkan prinsip kesenangan, kebebasan, dan minat.   Melalui prinsip ini, untuk meraih banyak prestasi, Millenial tak lagi perlu bersusah-susah belajar hal-hal yang dirasa tidak menopang masa depan. Melalui sistem ini, Millenial dapat mengoptimalkan kemampuan hanya pada hal-hal yang paling dikuasai saja.

Seperti yang dilansir pada Jawa Pos 7 April 2017, Millenial mencintai mobilitas tinggi dan modern nomadic.  Melalui gaya hidup nomaden, Millenial memiliki banyak kesempatan belajar dari tren yang berkembang di negara seberang, melihat perubahan di sisi lain provinsi, atau bahkan mampu mengubahkan daerah tertinggal lain melalui berbagai kegiatan sosial.

Traveling menjadi salah satu kesempatan bagi Millenial mengembangkan potensi sambil menikmati keindahan alam. Hal-hal seperti ini mampu merangsang daya kreativitas tak terbatas untuk melahirkan inovasi baru. Dengan sistem seperti ini, para Millenial sebenarnya mampu membentuk peradaban bangsa yang lebih cepat berkembang. Melihat potensi potensi saat ini, sudah sepantasnya sepantasnya para Millenial memiliki banyak prestasi. Caranya sangat mudah. Hanya dengan menjadi kreatif dan aktif memaksimalkan modernitas pendidikan saat ini.

Beasiswa Sexy Beasiswa Dataprint

Pernah kepikiran dapat beasiswa hanya dengan sedikit keringat? sebagai seorang pemburu beasiswa, saya merasa mencari beasiswa bukalah pekerjaan mudah. Ada banyak persyaratan yang harus dikumpulkan. Misalnya saja dokumen pembayaran uang kuliah, historis pembayaran air, listrik, pajak, ataupun harus menyertakan surat keterangan kurang mampu dari kelurahan tempat tinggal kita.

Bagi sebagian orang, hal seperti ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Tak sedikit juga yang akhirnya menyerah sebelum mencoba. Lalu pernahkan teman teman dengar program beasiswa yang hanya meminta kita menuliskan satu essay dan formulir saja? Kalau belum pernah simak baik baik beasiswa sexy yang satu ini.

Program beasiswa DataPrint adalah program CSR dari Data Print. Program ini telah memasuki tahun ketujuh. Sejak 2011 hingga 2016, DataPrint  telah sukses membantu ratusan pelajar meraih berbagai prestasi. Tak ingin berhenti disitu saja, DataPrint kembali membuat program beasiswa bagi penggunanya yang berstatus pelajar dan mahasiswa di tahun 2017.

Tahun ini, sebanyak 400 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi. Program beasiswa ini dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint.

Beasiswa ini terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 400 ribu, Rp 600 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.

Di tahun 2017 ini  ada hadiah khusus juga loh untuk 5 orang peserta yang paling banyak merekomendasikan program ini ke teman-teman. Jika nama lengkapmu dan asal sekolah atau kampus kamu tertera di formulir pendaftaran temanmu (nama pemberi rekomendasi), siap-siap deh kamu akan jadi pemenangnya di akhir periode!

Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi, segera daftarkan diri kamu melalui website www.beasiswadataprint.com. Jangan lupa cek juga website resmi DataPrint di www.dataprint.co.id.

Semoga info ini membantu dan mampu membuat teman teman semakin berprestasi. Selamat mencoba.

What Does Working Mean For A Christian?

As a final year student, I am very fragile thingking between continuing my study to master or securing a job for my future career at least for the next five years. I was so strongly standing on my idealism that I have to continue my study to master degree right after my graduation. However, I found some difficulties on running my final project which then broke my idealism. I gave up on study and wanted to run out from my project. That is why, I started to thinking on finding a job.

The first time I apply was a management trainee from an international company. However, I dont know whether I failed or what because the company has not sent me the info yet. The next time, I wanted to apply another management trainee from another international company. However, I contacted my senior asking about management trainee.

I really did not expect his answer that he said I should bring it into my prayer first. Day by day, I still struggle on continuing finding job or not, and uncoincidently my friend invited me to join their seminar about working.

In this seminar, I was reminded, that for a christian, working is not only about taking a job and securing future. But, working is about doing mission in the real life. The mission (greek: missio) here is a mission that given by God. Mission is the thing He wanted us to do from the perspective of our profesionality.

There is a big picture about God’s mission that is captured into a big picture called God’s Universal Mission, and as a Christian, we need to see from this perspective.

Learning from Revelation 22:1-2, The Jerusalem comes from heaven to the earth which means that there, people who died would not going to heaven. But, the heaven itself that came down to the earth and replacing it. People will stay in the new earth, that is why one of christian’s responsibility is to save the earth through our job. Then go and make it green since now.

Another thing I learnt was, there is nobody can change the world. But, we can only change the culture. Since culture changes by the age, we can change culture based on our age. Another additional point was, mostly people would spent around 35 years of working before retirement. Which means, most of our life is about working. So, connecting the dots, we can change the culture around us through our Job.

Then how we can do it?

A man who can make a change is the man that has already enough with himself. He has been enough regarding his sufficiency, fulness, and self-peace. Looking at Mother Teresa’s’s action, where she spent her life caring the poorest people from the poor. It is not because she has been securing her life into richness or saving a lot of money to secure her family. But, it was because she has the heart of Christ that make her enough with her self-sufficiency, fullness, and peace.

Regarding that three points, we have to understand that being a Christian in a working space is not about how you can save yourself. not only doing a right thing for yourself and improving your faith. it’s too egoistic.

But, through our work, we have to make a change in our society. Changing our working culture into serving by living God’s life. Changing ourself is critical to help us build our braveness to shout the calling of the one who has the Mission. The missions we are going to take from our job are integral mission to secure our christiany integrity. Therefore we can see the world as God see it, treat other on God’s way, and introducing God to other.

Then, what we can do?

Working is not about money, future, and family. Because He said that, He feeds us more that birds on the sky, fullfills our needs, and secures our family. It’s just about building faith on Him and let him do the rest for us. What we need to do is only doing his mission through our job. Still confusing about what we can do through our job?

It is good to spent at least a month to join a mission event. However, a year is much better. By joining mission trip we could learn how to commiserate people in need, then learn how to make impact to them. After that, we can back to our background and continue our work. If we can make a big impact, we can share gospel through our work. The last, we can also support other missionary through our donation or other stuff we can give to help them. Remember that as a person who has been discipled, it is our responsibility to support the life of God’s servant (aka missionaries).

Let’s make conclusion.
As a christian, securing a job means that we have to choose a job based on God’s universal mission on us. Then, through that job, we can change our culture  by acting more than people can expect from us (in the right way of course). Next, through our job, we can tell the gospel. (I called this personal missionary). It is good to make a time for joinin mission to change other life. If we are too busy, let other do that for us through our donation. Easy right? Then. Go and do your Job.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Balada Dana TA Anak Teknik Material

Sebenarnya cuma pengen curhat aja masalah dana TA yang aku kerjain satu semester ini. Jadi, proyek TA saya adalah membuat material untuk filamen 3D printing tulang buatan. Proyek ini tidak dibiayai sama dosen, jadi semua biaya ditanggung penumpang.

Awalnya kupikir gak terlalu berat. Ternyata setelah menjalaninya lumayan bikin pusing juga. Selain TA nya sendiri yang udah lumayan ribet, aku pun harus ekstra mikir dana untuk TA ini.

Bahan utama material ini adalah Polylactic Acid (PLA). Material ini susah banget dicari di Indonesia. Tapi berhubung dosenku punya PLA, akhirnya aku make itu aja. Untuk melarutkan PLA, aku pake pelarut kloroform. Saat menulis ini, harga kloroformnya 68.000 per 100ml. Sejauh ini, aku sudah menggunakan 300ml kloroform untuk trial, dan 500ml untuk bikin spesimen uji SEM, XRD, FTIR.

Aku juga masih harus bikin spesimen untuk uji kekerasan dan uji tarik. Saat ini sih, kloroform yang ku siapkan sebanyak 500ml. So, sejauh ini kloroform yang kubeli udah menghabiskan kurang lebih 700.000 (ada pengurangan untuk pembelian kloroform jumlah banyak).

Selain kloroform, aku juga pernah membeli tulang sapi, larutan lain dan perlengkapan seperti petridish, crucible, soda kue, tepung maizena, dan lain lain. So, sejauh ini sudah menghabiskan sekitar  dua juta.

Hari ini aku mencoba bikin perkiraan dana untuk pengujian spesimen. Untuk materialnya aku bakal make uji SEM EDX sekitar 350.000 per jam. let say bakal uji selama dua jam untuk enam sampel. Jadi butuh dana sekitar 700.000. Kemudian uji FTIR dan XRD masing masing 50.000 per sampel. Karena memakai enam sampel, maka untuk uji keduanya butuh 600.000.

Selain itu, aku juga bakal uji DMA di laboratorium bahan Fisika MIPA ITS. Ininih, lumayan mahal, per sampel dihargai 200.000. Kalau pake enam sampel aja udah butuh 1.2 juta. Ditambah lagi, uji anti bakteri di lab Mikrobiologi di Biologi ITS. Per petridish, dihargai 350.000. Padahal butuh minimal  6 petridish, jadi sekitar 2.1 juta.

Kalau dihitung hitung, pengujian aja butuh 4.6 juta. Beli bahan bahan dan perlengkapan lain, butuh 2.5 juta. Total dana minimal untuk TA ini sekitar 7.1 juta. And this number make me totally dying. Jadi, saranku sih buat yang mau ambil TA, mending ikut proyek dosen yang mau biayain TA anda. Supaya gak capek capek mikirn dana dan lebih fokus pada hasil akhirnya.

RESENSI: #STRUGGLES

 

“Kita diciptakan bukan untuk bumi, melainkan kekekalan. Kita diciptakan bukan untuk disukai melainkan memperlihatkan kasih. Kita diciptakan bukan untuk menarik perhatian kepada diri sendiri melainkan memberikan kemuliaan bagi Allah. Kita diciptakan bukan untuk mengumpulkan followers, melainkan untuk follow Kristus”

 #Struggles adalah buku terbaru yang ditulis oleh Craig Groeschel, seorang pendiri dan pendeta senior di LifeChurch.tv. Buku ini ditulis atas fakta banyaknya orang yang merasionalkan keintiman teknologi gadget dalam kehidupan bersosialisasi. Menurut Craig, tak sedikit orang yang secara tidak sadar telah memperhambakan dirinya terhadap gadget mereka, namun tidak mau benar benar sembuh dari cengkeraman teknologi itu sendiri. Ia memandang bahwa, dengan adanya sosial media saat ini, banyak orang menjadi lebih berpusat pada diri sendiri dan meninggalkan Kristus dalam hidupnya.

Dalam penulisan bukunya ini, Craig mengambil beberapa kenangan yang ia miliki dimana ia banyak melewatkan momen penting hanya karena pengaruh gadget dalam genggamannya. Menurut saya, buku ini sangat relevan dengan kondisi kehidupan sosial saat ini. Saya sebagai pengguna aktif sosial media merasa buku ini secara jujur menguak sisi negatif penggunaan sosial media yang secara tidak sadar terlalu sering dimaklumi masyarakat. Secara telaten ia membuka sisi lain kehidupan sosialisasi yang berubah dengan adanya aplikasi sosial media saat ini.

Buku ini dengan jelas mempertanyakan kesungguhan hati pembaca untuk meninggalkan ketuhanan mereka terhadap teknologi. Selain mempertanyakan kesungguhan hati, Craig juga menawarkan kesembuhan rohani melalu langkah terjun langsung pada komunitas dan berinteraksi secara natural dan memperkaya diri dengan komunikasi yang intim dengan sesama teman. Melalui buku ini, Craig juga secara tegas ingin mengatakan betapa pentingnya kita untuk terdiskoneski dengan sosial media dan memulai menjalin hubungan yang nyata bersama teman.

Secara mendalam ia mengevaluasi cara kita terjalin saat ini. Mulai dari mengirimkan pesan, tweet, hingga timbulnya perasaan ogah untuk berjumpa langsung. Craig ingin mengajak pembaca kembali pada kehidupan kristiani yang saling menguatkan melalui kebiasaan interaksi langsung, sharing pergumulan hingga memberikan kontak fisik yang menenangkan kita dari kedukaan.

Dalam buku ini, Craig tidak serta merta mengutuk sosial media, tetapi mengajarkan kita bagaimana menggunakan media itu sesuai dengan fungsinya. Dengan mengangkat pengalaman pengalaman pribadi, ia secara perlahan mengajak pembaca bernalar logika mengoreksi kehidupan yang saat ini telah berakar pada individualisme.

Buku ini mudah dimengerti dan dipahami oleh pembaca dari semua kalangan. Penulis secara telaten memasukkan contoh riil yang ia temukan dalam kehidupan pribadinya. Contoh contoh tersebut juga mudah ditemukan dalam kehidupan kita pada umumnya, namun kita kurang jeli dengan hal itu.

Buku setebal 250 halaman ini, terbagi dalam delapan jenis pergumulan yang secara garis besar menggambarkan kehidupan kristiani yang terkikis oleh aktivitas sosial media yang saat ini mewabah. Mulai dari pergumulan dengan membanding bandingkan, hingga pergumulan dengan distraksi yang tiada henti, penulis Divine Direction ini menawarkan solusi aplikatif berdasarkan pemahaman alkitabiah yang fundamental.

Membaca buku ini, rasanya seperti berkomunikasi dengan banyak orang dengan perspektif yang berbeda. Untuk memulai setiap bab, Craig selalu menyematkan empat pendapat dari orang orang tertentu terkait bab yang akan ia bahas. Beberapa diantaranya adalah Alfred Nobel, Bunda Teresa, Frederick Buecher, Oprah Winfrey. Pembahasannya selalu diakhiri dengan pesan alkitabiah yang secara tegas dan lugas mengajak pembaca untuk kembali berpegang pada firman.

Buku ini cukup menarik karena dilengkapi dengan berbagai hastag. Dari pada menambah hastag pada sosial medianya, Craig lebih memilih menuliskan hastag pada tulisannnya dalam buku ini. Hastag-hastag tersebut menjadi poin poin penting yang ingin ia sampaikan pada bab dimana ia menempatkan hastag tersebut. Yang paling menarik dari buku ini adalah adanya kesimpulan serta lampiran yang salah satunya adalah langkah pengamanan terhadap distraktor online dari sosial media. Jika Anda tidak mau menyembah sesuatu yang tidak pernah memuaskan Anda, maka bacalah buku ini.

“Kesembuhan terjadi ketika hasrat kesembuhan lebih besar dari ketidakmampuan itu sendiri”

 

 

Menjadi Murid Serupa Kristus

“Apasih pemuridan itu?”
“Kenapa pemuridan itu pentin?”
“Apa bedanya pemuridan dengan kelompok pemuda di gereja?”

Beberapa pertanyaan itu sering dilontarkan teman teman ku. Mereka sepertinya belum paham betul apa dan bagaimana konsep pemuridan yang benar. Sebagai salah satu mahasiswa teknik di ITS, saya harus mengikuti konsep pemuridan yang diwajibkan bagi semua mahasiswa baru di ITS.

Kala itu, pemuridan yang dimaksud adalah pembimbingan mahasiswa baru dalam perspektif kristiani. Kami memanggil programmnya sebagai Kelompok Kecil (KK).  Sebagai anak yang sudah dibina di Perkantas, aku tisak asing dengan istilah itu.

Aku mengikuti KK selama satu tahun dan berhenti karena PKK kami waktu itu sudah lulus. Meski demikian, aku juga mengikuti kelompok tumbuh bersama (KTB) dari perkantas. KTB adalah lanjutan dari KK.

Perkantas memiliki suatu moto, “Student Today Leader Tomorrow”. Moto ini menggambarkan cita-cita yang hendak dicapai melalui proses pemuridan di kalangan siswa dan mahasiswa. Dari pemuridan itu, kelak akan dihasilkan para pemimpin (dalam konteks luas) yang akan menjadi berkat dimanapun dia berada (sesuai visi Perkantas).

Menjadi murid di pemuridan di Perkantas merupakan salah satu berkat Tuhan yang pernah aku rasakan. Ia dengan sangat luar biasanya memberikan aku berbagai kesempatan merasakan kasihnya yang luar biasa. Aku banyak merasakan pembimbingan yang hebat dari Pemimpin Kelompok Kecil (PKK) yang pernah mendidikku.

Beberapa kebiasaan burukku perlahan lahan dikikis dalam pemuridan ini. Yang paling berdampak adalah ketika aku SMA, aku menjadi pribadi yang tidak bisa menahan emosi. Dengan semena mena aku selalu naik pitam jika adikku bermasalah di rumah. Tak segan segan aku memukulnya kala itu. Namun karena kasih Kristus yang aku rasakan melalui pembinaan di Perkantas, aku mulai belajar menahan emosi. Aku sangat menyayangi adikku sekarang.

Selain itu, dengan pembinaan di perkantas juga, aku berani menantang diri untuk ebtul betul jujur dalam ujian. Saat Ujian Nasional (UN) SMA, terdapat banyak sekali teman teman yang mendapatkan kunci jawaban. Entah dari mana mereka mendapatkannya, mereka menggunakannya ketika UN. Ada godaan  yang sangat besar yang mengganggu pikiranku. Ada juga ketakutan besar jika aku tidak lulus. Namun akhirnya aku lulus UN juga meski dengan nilai pas pasan. Masih banyak cara hidupku yang diubahkan Tuhan waktu itu.

Sebagai (Anak Kelompok Kecil) AKK yang sudah dibina bertahun tahun, aku rindu mendapatkan kesempatan menjadi PKK yang baik dan mampu memberikan contoh hidup kristiani bagi AKK yang akan aku pimpin. Aku percaya dengan menjadi PKK aku bisa semakin menajamkan gaya hidup kristiani dan semakin banyak mentransfer ketuhanan kristus untuk mengubahkan hidup AKK ku nanti.

Semoga dalam waktu dekat ini, Tuhan beri kesempatan aku mendapatkan adik KTB untuk dibina. anyway, bagi yang mau tau konsep pemuridan di perkantas silahkan buka yutub di link https://www.youtube.com/watch?v=eS0HSUC3Ua0
(mohon maaf tak bisa bikin video di blog ini. akunnya masih gratisan)

Video Source:
http://www.perkantasjatim.org
Animator: Orlianto Lingga Tumende

TUGAS II PBB

This article is literally my homework. However, during doing this assignment, I found some difficulties because the materials were not prepared on our lecture slides. I hope this article would benefit materials engineering students who want to do their homework faster.

Home Exercise Iron and Steelmaking
Lecturer : Sungging Pintowantoro, PhD
OpenBook, 120 minutes
26 May 2017

 

  1. What are different alternative iron making processes? Explain the alternative process suitable with iron ore in Indonesia.

    ANSWER:  There are several alternatives for iron making process. Iron could be processed either by Direct Reduction Iron (DRI) process and Smelting Reduction of Iron (SRI) process.
    A. DRI process is the one that is applied in Indonesia. The example is Blast Furnace technology that is widely applied in several provinces.
    B. SRI process has been developed in several countries such as Japan, Korea,                   Germany, and so on. The technology that is operated commercially nowadays is COREX, FINEX, and HISMELT. However, due to limited access, human resource,     political issue, and the policy applied nowadays in Indonesia, these option has not ever been applied in any mining corporation.

    Concerning about the profile of Indonesia’s iron ore, the blast furnace process is one option that is suitable and has been applied for years.  However, Finex and Hismelt technology are also suitable for Indonesia’s iron ore because finex used low-grade iron profile. In 2015, Indonesia has signed MoU with Posco, Korea to use develop this technology in Indonesia. However, this far, this technology has not been applied widely yet.

  2. What is steelmaking?
    ANSWER: Steelmaking is the process for producing steel from iron ore and scrap. In this process, impurities such as nitrogen, silicon, phosphorus, and sulfur and excess carbon are removed from the raw iron. Alloying elements such as manganese, nickel, chromium and vanadium are added to produce different grades of steel.
  3. Differentiate between pig iron, cast iron, and steel.
    ANSWER:
    – Pig iron is the iron that is obtained from blast furnace. It contains 4% carbon and many impurities such as S, P, Si, Mn in a smaller amount.
    – Cast iron is obtained by melting pig iron using hot air blast and given some coke to remove some of its impurities. Cast iron contains a lower amount of carbon (3%) than pig iron. Cast iron is also extremely hard and brittle.
    -Steel is an alloy of iron and other additional materials. The primary content of steel is carbon. This material is the most important engineering and construction material because it has high strength and a cost.
  4. Why big ingots with circular cross section are not cast?
    ANSWER: Casting large ingot is mean to minimize the tendency of the ingot to crack on cooling and solidifying. However, if the ingots are big and having circular cross section area, the ration of the perimeter to cross section area of the ingot would be minimum. It means there is no excess surface metal to draw upon as the outer portion of the ingots tends to cool and corrugated uniformly against its still molten interior. The perimeter is greatly increased in relation to the cross-sectional area. As the circular cross section ingots cool, it might contract initially at the outer vertical of the corrugation or fluting and it would eliminate any tendency to crack.
  5. What is the mechanism of decrease in viscosity of pure liquid silica on addition of CaO
    ANSWER: Silicate is known having a high viscosity (105P). At the corner of silicate cristal, it bonds strongly to all direction in a wide range networking area. When CaO is added, two bonds of silicate would open the chain because it bonds with oxygen to form CaO. The driving force od the silicate bond separation is the attraction of oxygen and silicon. The content of CaO/SiO2 would change the flux and decrease the viscosity. This process happens when the temperature is heated.

6. Define basicity of slag from ionic slag model
ANSWER: The basicity of slag from Ionic slag model is defined by the number of an excess of 02- It can be understood from ionic or from molecular nature of slag. The ionic nature of slag assumes slag to consist of ions. It also could be calculated by differentiating the percent weight of CaO and the percent weight of SiO2.

7. Why is it necessary to have excess lime in slag in converter steelmaking?
ANSWER: It is important to have excess lime in slag to assure the protection to the converter refractories. The lime would also dissolve in lower temperature producing flux by the addition of FeO. The lime is very critical in steelmaking because it interacts with various components formed during the steelmaking process. Removing phosphorus from the steel lime and oxygen is needed to produce the product of P2O5.CaO to trap in the slag. For the removal of the phosphorus, slag is to be removed by deslagging of the converter in the middle of blow and in this process it is important to have excess lime to blow the heat down more (oxygen activity) and to keep it cooler

7. Explain the role of a basic oxidizing slag in steelmaking.
ANSWER: Oxidation is to refine the high carbon hot metal (HM) to low carbon liquid steel. Oxidizing slag is also aimed to obtain desired physiochemical properties of slag like melting point, basicity, viscosity, and etc. A strongly oxidizing slag is favorable for oxidation reactions. However, it also acts as a sink for impurities during refining of steel, controls oxidizing and reducing the potential of the bath during refining through FeO content. It also helps dephosphorization and absorbs some sulfur. It absorbs oxide /sulfide inclusion, provides protection to the liquid steel from re-oxidation and emulsifies the hot metal and promotes carbon oxidation.

8. Carry-over of the basic oxidizing slag from the converter is undesirable to the transfer ladle. Why? How is it possible to minimize the carry-over of slag?
ANSWER: It is possible to minimize the carry over slag is by designing various slag stoppers in conjunction with melter’s eyeballs, which remain the dominant control device. Slag in the ladle results in phosphorus reverion, retarded desulfurization and possibly dirty steel.

9. What are the functions of argon gas in R-H degassing  processes
ANSWER: In R-H degassing process, Argon gas acts as a lifter gas to increase the molten steel velocity which is entering into the inlet snorkel.

10. Is electric steelmaking autogenous? Explain in brief
ANSWER: Electric Steelmaking is not an autogenous process like oxygen furnace because this furnace is basically melting the furnace in which charge material is melted. The required energy depends on the energy given from the outside instead of from its oxidation like in BOF.

11. What are conditions of producing rimming steel ingots
ANSWER: To produce rimming steel ingots is by molding to a height not greater than or not exceeding 75 inches height. It also not given deoxidizing agent added during casting. The carbon is less than 0.1%

12. Give parameters to judge quality of sponge iron for its usage in electric steelmaking
ANSWER: It is primarily evaluated by percentage of its metallic iron content. Typically Fe total is 90-92, Fe metallic 81-84, Sulphur 0.03, phosphorus 0,05 and carbon is 0,01. The size ranges from 5mm to 12mm.

13. How does preheating of scrap decrease electric consumption in electric steelmaking
ANSWER: Pre-heating the scrap make the process of melting it much easier so the EAF does not have to heat the scrap from zero temperature. In addition, pre-heating the scrap is also using hot waste gasses from the furnace that means that the energy is used well.

14. Why is it necessary to inject carbon in electric steelmaking?
ANSWER: Injection of carbon in Electric Steelmaking is important because the carbon would consume the excess oxygen in the melt down period.

Sebagai seorang jurnalis, saya banyak bersinggungan dengan orang orang penting. Salah satu hal yang paling krusial yang harus saya dapat dari para narasumber  adalah kepercayaan. Saya yakin, ketika saya mendapat kepercayaan dari narasumber, semua informasi yang saya inginkan akan dengan mudah saya peroleh.

Salah satu ketakutan saya adalah kehilangan kepercayaan. Kepercayaan orang lain itu sangat mahal harganya. Sekali menerima kepercayaan orang lain, saya harus bertanggung jawab penuh. Saya harus berikan yang terbaik dari dari dalam diri saya sendiri.

Tapi selalu ada situasi saya merasa tidak perform dengan baik. Saya kehilangan kepercayaan orang lain. Tidak hanya itu, saya juga kehilangan kepercayaan diri sendiri.

Saya selalu berfikir keras supaya hal itu tidak terjadi dalam hidup saya. Mencari dan menemukan ide serta membangun kreativitas merupakan pekerjaan yang memakan waktu. Kadang, saya harus kembali meyingkap hal hal di masa lampau, mencari yang terselip, menemukan yang terlewat, dan memperhatikan setiap sudut dengan lebih teliti.

Bagi saya kreativitas selalu muncul dari hal yang tidak diduga. Hal hal random seperti menari, duduk berkontemplasi, dan berdiam di bawah guyuran air selalu menciptakan ketenangan dalam diri saya. Momen momen seperti itulah saya dapat menemukan sesuatu yang baru yang membuat saya selalu tampil lebih berbeda. Saya percaya dengan memiliki ketenangan dalam diri, saya dapat membangkitkan kembali kepercayaan diri saya.

Saat ini, saya belajar mengemban kepercayaan dari orang lain. Mengerjakan proyek Tugas Akhir, menyelesaikan laporan pengujian di perusahaan Kerja Praktek, dan mempersiapkan diri menjelang riset di Korea membuat saya setiap hari merasa semakin kurang percaya diri. Mungkin benar bahwa saya harus kembali menguji diri, mencari sampai mana batas saya dapat menggali kreativitas dan mengasah kemampuan mengejar asa yang lebih tinggi.

Saya percaya, setiap hari yang terbatas dalam hitungan jam ada maksudnya. Setiap hari, akan selalu diawali dengan mentari pagi yang bersinar tanpa malu. Mungkin, dengan itulah, alam juga mengajak kita bersemangat setiap pagi dan menaklukkan siang dengan kobaran semangat yang membara. Hingga malam tiba, kita akan beristirahat untuk kembali demi esok yang lebih cerah.

Alam saja memberi janji dan memberi kepastian akan kepercayaan kita padanya. Lalu mengapa saya harus menyerah dan menyurutkan kepercayaan orang pada saya?

_adven @Kantor ITS Online
ketika semua laporan sedang mangkrak

Ketika Korea Memanggil~

Masih ingat dengan masa aku uring uringan karena ditolak exchange ke Korea? hahhaaa. Itu sudah lama sekali ya. Waktu itu masih semester 5 akhir.  Secara apappun, sebenarnya aku tidak telalu tertarik dengan Korea Selatan. Bukan karena cewek cewek nya yang katanya super cantik, aku juga bukan penggemar K-Pop dan K-drama. Hanya saja emang, aku suka aja dengar nama Dankook Unibersity. hhahahahaha. alasan yang tidak masuk akal.

Kalau dari segi teknologi, aku juga sebenarnya tertarik mempelajari industri teknologi barang elektronik. Secara siapa coba yang gak ngefans dengan Samsung? Merek asal korsel ini menjadi satu satunya produk yang berasni nantangin Apple dalam dunia industri barang elektronik. Yang lain cuma ngikut ngikut doang.

Aku juga berharap, suatu ketika nanti, aku bisa membangun sebuah perusahaan telepon genggam buatan anak bangsa yang kelak akan digunakan oleh pemuda bangsa ini. (ecieehhhh).  #gueserius

Nah, kali ini, ternyata mimpi itu bakal terwujud. Tuhan beri aku sedikit harapan bahwa sebelum aku lulus, aku akan mencicipi sedikit cita rasa Korea. Ya, bumbu bumbu “K” bakal mewarnai dunia perkuliahanku. Mungkin aja, hidupku bakal sedikit lebih mello kayak K-Drama. atau mungkin, K-Pop bakal sedikit mempengaruhi aliran musikku. hahahha

Belum pasti sih sebenarnya. Tapi aku masih menaruh harapan pada Karya Tuhan. Aku berserah aja sih, kalo emang Chosun bakal milih aku jadi salah satu kandidat penerima beasiswa GKS tahun ini, aku bakal bersyukur banget. Tapi kalo gak lolos juga gak papa sih. Paling juga langsung wisuda dang ngejar beasiswa S2.

Tapi buat teman2 yang baca curhatan kali ini, mohon doanya ya. Seleksi terakhir dari pihak GKS dan Chosun University. Kalau mereka OK, maka kami bakal terbang ke Korea bulan Juli 2017. so, plis didoain ya teman teman. heheheh

Thankyou.
God Bless Us.

[REVIEW] BELAJAR KETULUSAN DARI STARBUCKS

Starbucks dan ketulusan? nggak salah?
Mungkin banyak orang yang susah mengaitkan starbucks yang notabenya koorporasi jutaan dolar dengan ketulusan. Apalagi kalau mengingat harga starbucks yang puluhan kali lebih mahal dari kopi giras. Tulus apanya coba? hehe

Akan tetapi opini ijoan saya berubah di sesi bedah buku bersama kawan ITS Online di rapat redaksi tadi. Kawan saya, si @Hutajulu membedah buku The Starbucks Experience yang mengupas rahasia kesuksesan Starbucks.

Dan ternyata, kunci kesuksesan itu tidak di kopinya, tidak di logonya, apalagi baristanya hehe. Kunci sukses starbucks ada dalam budaya kerja starbucks, salah satunya adalah budaya tulus.

Ketika dibangun, starbucks sangat konsisten pada lima prinsip. diantaranya adalah kebebasan, detail, kejutan, keterbukaan dan keunikan. Berikut adalah rangkuman singkatnya:

1. Lakukan Dengan Caramu
Ternyata starbucks berani mengucurkan uang lebih demi memberi ruang baristanya ‘bermain-main’ dengan kopi. mereka membiarkan barista membawa pulang kopi, bereksperimen dan menciptakan cita rasa yg baru. Hal ini memberi banyak ruang bagi barista untuk berkembang, apalagi starbucks selalu memberi insentif tahunan yang bisa dimanfaatkan baristanya untuk menanam saham. dengan begitu, pemilik starbucks tidak meraup untung seorang diri. Namun juga memberi ruang karyawannya berkembang dan pada akhirnya memiliki kafe starbucks sendiri. cara yang praktis simpel dan elegan untuk berkembang biak 😉

2. Attention to Detail
Hal ini tak hanya sekedar menulis nama kita di gelas starbucks lho, meskipun ini cara yg asyik bagi barista untuk menghapal konsumennya. Attention to detail juga mengharuskan barista starbucks untuk memberi perhatian kepada konsumen, sekedar mengajak mengobrol atau bahkan menghibur dan menemani.

Tadi teman saya mengaku alasan dia suka nongki di starbucks adalah pelayanannya yg asyik, sangat diperhatikan meskipun dia sedang tidak punya uang. barista bakal selalu menawarkan promo ini itu atau kupon ini itu untuk membantu konsumennya yg sedang bokek.

Bahkan ada cerita barista starbucks yang menemani ibu2 yg bingung dan ketakutan hingga dibantu cara pulang ke rumah. siapa konsumen yg tidak suka diperlakukan dengan begitu baiknya?

3. Surprise and Delight
Nah disini bisa dilihat lagi pengalaman teman saya yang dibantu dengan promo dan kupon macam-macam ketika lagi bokek. juga pernah ketika temannya meminta tambahan es batu, si barista segera menambah es meskipun saat itu antrian sedang sangat panjang dan dia sibuk sekali.

Juga ketika secara tidak sengaja konsumen lain menumpahkan kopi pengunjung lain. starbucks segera menggantinya dengan segelas kopi yg baru, meskipun si pelanggan sudah menolak dan bilang kalau kopinya tinggal sedikit. surprise macam ini yang bikin kostumer setia sama starbucks

4. Terbuka pada Kritik
Starbucks sangat terbuka pada kritik customernya. Bahkan drive-thru adalah inovasi yang berasal dari kritik dan saran pelanggan starbucks. dan sekarang sudah dipakai di banyak fast food chain.

starbucks juga memperhatikan dan menghargai setiap masukan dan menjadikannya harta yang berharga, sehingga banyak inovasi dan ide segar yang malah muncul dari kritik konsumen.

5. Leave your mark
Kalau untung jangan untung sendiri. juga harus menguntungkan karyawannya. misalnya uang insentif tahunan starbucks yang sudah saya ceritakan tadi. bukan hanya membuat pelanggan setia, tapi juga membuat karyawannya juga setia karena sangat dihargai.

Ada juga nilai leadership starbucks yang harus dimiliki oleh semua barista dan managernya, yakni:
a. ramah
b. tulus
c. berwawasan
d. peduli
e. perhatian

dan itu membawa diskusi yang menarik di meja rapat tadi. bahwa bisnis yang baik adalah bisnis yang tidak rakus. banyak pebisnis yang malah gagal karena ingin menang sendiri, sementara starbucks adalah contoh bisnis yang cerdas.

Pemilik starbucks memandang uang atau keuntungan sebagai dampak dari usahanya, dan bukan sebagai tujuan utama. Tujuan starbucks adalah menciptakan starbucks experience yang membuat pelanggan nyaman, merasa diperhatikan, dipedulikan dam membangun budaya dan atmosfir itu hingga ke karyawannya.

Efek dari tujuan itu tentunya adalah keuntungan finansial. namun, dengan pelayanan seperti itu, tentunya pelanggan tidak akan merasa dirugikan. malah dengan senang hati memberikan uangnya kepada pihak yang membuatnya senang.

Starbucks menginvestasikan banyak modalnya untuk melatih barista, membiarkan mereka bebas dan membantu mereka berkembang, hasil dari investasi itu tentunya keuntungan jangka panjang sebagai akibat dari loyalitas pelanggan dan karyawannya. visioner sekali.

Selain itu, bedah buku ini juga memberikan banyak pelajaran bagi tiap kru tentang arti ketulusan, supaya tidak profit oriented, supaya menganggap kritik adalah hal yang positif dan memberikan banyak pelajaran tentang leadership dan budaya kerja yang baik.

Diskusi yang sangat seru dan menarik di meja tadi. Semoga palajaran dan diskusi kita ini bisa pelan pelan terimplementasikan di kehidupan pribadi/ITS Online kita ya.

Senang sekali bisa mengisi sedikit waktu dengan diskusi yang menyegarkan. Thankyou dear crewmate! 😀

[Artikel ini ditulis oleh Saktia Golda Sakina Dewi setelah mengikuti bedah buku yang saya pimpin di kantor ITS Online]