Menjadi Murid Serupa Kristus

“Apasih pemuridan itu?”
“Kenapa pemuridan itu pentin?”
“Apa bedanya pemuridan dengan kelompok pemuda di gereja?”

Beberapa pertanyaan itu sering dilontarkan teman teman ku. Mereka sepertinya belum paham betul apa dan bagaimana konsep pemuridan yang benar. Sebagai salah satu mahasiswa teknik di ITS, saya harus mengikuti konsep pemuridan yang diwajibkan bagi semua mahasiswa baru di ITS.

Kala itu, pemuridan yang dimaksud adalah pembimbingan mahasiswa baru dalam perspektif kristiani. Kami memanggil programmnya sebagai Kelompok Kecil (KK).  Sebagai anak yang sudah dibina di Perkantas, aku tisak asing dengan istilah itu.

Aku mengikuti KK selama satu tahun dan berhenti karena PKK kami waktu itu sudah lulus. Meski demikian, aku juga mengikuti kelompok tumbuh bersama (KTB) dari perkantas. KTB adalah lanjutan dari KK.

Perkantas memiliki suatu moto, “Student Today Leader Tomorrow”. Moto ini menggambarkan cita-cita yang hendak dicapai melalui proses pemuridan di kalangan siswa dan mahasiswa. Dari pemuridan itu, kelak akan dihasilkan para pemimpin (dalam konteks luas) yang akan menjadi berkat dimanapun dia berada (sesuai visi Perkantas).

Menjadi murid di pemuridan di Perkantas merupakan salah satu berkat Tuhan yang pernah aku rasakan. Ia dengan sangat luar biasanya memberikan aku berbagai kesempatan merasakan kasihnya yang luar biasa. Aku banyak merasakan pembimbingan yang hebat dari Pemimpin Kelompok Kecil (PKK) yang pernah mendidikku.

Beberapa kebiasaan burukku perlahan lahan dikikis dalam pemuridan ini. Yang paling berdampak adalah ketika aku SMA, aku menjadi pribadi yang tidak bisa menahan emosi. Dengan semena mena aku selalu naik pitam jika adikku bermasalah di rumah. Tak segan segan aku memukulnya kala itu. Namun karena kasih Kristus yang aku rasakan melalui pembinaan di Perkantas, aku mulai belajar menahan emosi. Aku sangat menyayangi adikku sekarang.

Selain itu, dengan pembinaan di perkantas juga, aku berani menantang diri untuk ebtul betul jujur dalam ujian. Saat Ujian Nasional (UN) SMA, terdapat banyak sekali teman teman yang mendapatkan kunci jawaban. Entah dari mana mereka mendapatkannya, mereka menggunakannya ketika UN. Ada godaan  yang sangat besar yang mengganggu pikiranku. Ada juga ketakutan besar jika aku tidak lulus. Namun akhirnya aku lulus UN juga meski dengan nilai pas pasan. Masih banyak cara hidupku yang diubahkan Tuhan waktu itu.

Sebagai (Anak Kelompok Kecil) AKK yang sudah dibina bertahun tahun, aku rindu mendapatkan kesempatan menjadi PKK yang baik dan mampu memberikan contoh hidup kristiani bagi AKK yang akan aku pimpin. Aku percaya dengan menjadi PKK aku bisa semakin menajamkan gaya hidup kristiani dan semakin banyak mentransfer ketuhanan kristus untuk mengubahkan hidup AKK ku nanti.

Semoga dalam waktu dekat ini, Tuhan beri kesempatan aku mendapatkan adik KTB untuk dibina. anyway, bagi yang mau tau konsep pemuridan di perkantas silahkan buka yutub di link https://www.youtube.com/watch?v=eS0HSUC3Ua0
(mohon maaf tak bisa bikin video di blog ini. akunnya masih gratisan)

Video Source:
http://www.perkantasjatim.org
Animator: Orlianto Lingga Tumende

[REVIEW] BELAJAR KETULUSAN DARI STARBUCKS

Starbucks dan ketulusan? nggak salah?
Mungkin banyak orang yang susah mengaitkan starbucks yang notabenya koorporasi jutaan dolar dengan ketulusan. Apalagi kalau mengingat harga starbucks yang puluhan kali lebih mahal dari kopi giras. Tulus apanya coba? hehe

Akan tetapi opini ijoan saya berubah di sesi bedah buku bersama kawan ITS Online di rapat redaksi tadi. Kawan saya, si @Hutajulu membedah buku The Starbucks Experience yang mengupas rahasia kesuksesan Starbucks.

Dan ternyata, kunci kesuksesan itu tidak di kopinya, tidak di logonya, apalagi baristanya hehe. Kunci sukses starbucks ada dalam budaya kerja starbucks, salah satunya adalah budaya tulus.

Ketika dibangun, starbucks sangat konsisten pada lima prinsip. diantaranya adalah kebebasan, detail, kejutan, keterbukaan dan keunikan. Berikut adalah rangkuman singkatnya:

1. Lakukan Dengan Caramu
Ternyata starbucks berani mengucurkan uang lebih demi memberi ruang baristanya ‘bermain-main’ dengan kopi. mereka membiarkan barista membawa pulang kopi, bereksperimen dan menciptakan cita rasa yg baru. Hal ini memberi banyak ruang bagi barista untuk berkembang, apalagi starbucks selalu memberi insentif tahunan yang bisa dimanfaatkan baristanya untuk menanam saham. dengan begitu, pemilik starbucks tidak meraup untung seorang diri. Namun juga memberi ruang karyawannya berkembang dan pada akhirnya memiliki kafe starbucks sendiri. cara yang praktis simpel dan elegan untuk berkembang biak 😉

2. Attention to Detail
Hal ini tak hanya sekedar menulis nama kita di gelas starbucks lho, meskipun ini cara yg asyik bagi barista untuk menghapal konsumennya. Attention to detail juga mengharuskan barista starbucks untuk memberi perhatian kepada konsumen, sekedar mengajak mengobrol atau bahkan menghibur dan menemani.

Tadi teman saya mengaku alasan dia suka nongki di starbucks adalah pelayanannya yg asyik, sangat diperhatikan meskipun dia sedang tidak punya uang. barista bakal selalu menawarkan promo ini itu atau kupon ini itu untuk membantu konsumennya yg sedang bokek.

Bahkan ada cerita barista starbucks yang menemani ibu2 yg bingung dan ketakutan hingga dibantu cara pulang ke rumah. siapa konsumen yg tidak suka diperlakukan dengan begitu baiknya?

3. Surprise and Delight
Nah disini bisa dilihat lagi pengalaman teman saya yang dibantu dengan promo dan kupon macam-macam ketika lagi bokek. juga pernah ketika temannya meminta tambahan es batu, si barista segera menambah es meskipun saat itu antrian sedang sangat panjang dan dia sibuk sekali.

Juga ketika secara tidak sengaja konsumen lain menumpahkan kopi pengunjung lain. starbucks segera menggantinya dengan segelas kopi yg baru, meskipun si pelanggan sudah menolak dan bilang kalau kopinya tinggal sedikit. surprise macam ini yang bikin kostumer setia sama starbucks

4. Terbuka pada Kritik
Starbucks sangat terbuka pada kritik customernya. Bahkan drive-thru adalah inovasi yang berasal dari kritik dan saran pelanggan starbucks. dan sekarang sudah dipakai di banyak fast food chain.

starbucks juga memperhatikan dan menghargai setiap masukan dan menjadikannya harta yang berharga, sehingga banyak inovasi dan ide segar yang malah muncul dari kritik konsumen.

5. Leave your mark
Kalau untung jangan untung sendiri. juga harus menguntungkan karyawannya. misalnya uang insentif tahunan starbucks yang sudah saya ceritakan tadi. bukan hanya membuat pelanggan setia, tapi juga membuat karyawannya juga setia karena sangat dihargai.

Ada juga nilai leadership starbucks yang harus dimiliki oleh semua barista dan managernya, yakni:
a. ramah
b. tulus
c. berwawasan
d. peduli
e. perhatian

dan itu membawa diskusi yang menarik di meja rapat tadi. bahwa bisnis yang baik adalah bisnis yang tidak rakus. banyak pebisnis yang malah gagal karena ingin menang sendiri, sementara starbucks adalah contoh bisnis yang cerdas.

Pemilik starbucks memandang uang atau keuntungan sebagai dampak dari usahanya, dan bukan sebagai tujuan utama. Tujuan starbucks adalah menciptakan starbucks experience yang membuat pelanggan nyaman, merasa diperhatikan, dipedulikan dam membangun budaya dan atmosfir itu hingga ke karyawannya.

Efek dari tujuan itu tentunya adalah keuntungan finansial. namun, dengan pelayanan seperti itu, tentunya pelanggan tidak akan merasa dirugikan. malah dengan senang hati memberikan uangnya kepada pihak yang membuatnya senang.

Starbucks menginvestasikan banyak modalnya untuk melatih barista, membiarkan mereka bebas dan membantu mereka berkembang, hasil dari investasi itu tentunya keuntungan jangka panjang sebagai akibat dari loyalitas pelanggan dan karyawannya. visioner sekali.

Selain itu, bedah buku ini juga memberikan banyak pelajaran bagi tiap kru tentang arti ketulusan, supaya tidak profit oriented, supaya menganggap kritik adalah hal yang positif dan memberikan banyak pelajaran tentang leadership dan budaya kerja yang baik.

Diskusi yang sangat seru dan menarik di meja tadi. Semoga palajaran dan diskusi kita ini bisa pelan pelan terimplementasikan di kehidupan pribadi/ITS Online kita ya.

Senang sekali bisa mengisi sedikit waktu dengan diskusi yang menyegarkan. Thankyou dear crewmate! 😀

[Artikel ini ditulis oleh Saktia Golda Sakina Dewi setelah mengikuti bedah buku yang saya pimpin di kantor ITS Online]

MAHASISWA ITS IKUT SIMULASI UN HABITAT

Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tak pernah lelah menuai prestasi. Kali ini, kepada ITS Online, Adven Firman Hutajulu membagi kisahnya ketika mengikuti Simulasi United Nations Human Settlement Programme 2017 (UN Habitat) di Hotel Santika Premiere Bintaro, Tangerang, Selasa (11/4) lalu.
Mengusung tema Solution for Cities and Climate Change, acara yang berlangsung hingga Kamis (13/4) ini dikemas serupa model simulasi sidang PBB. Simulasi ini diprakarsai oleh Friedrich Naumann Foundation, Jerman, bekerjasama dengan Climate Institute. “Pada simulasi tersebut, setiap peserta menjadi perwakilan dari suatu negara, kebetulan saya berkesempatan untuk menjadi delegasi dari Korea Selatan,” tukas mahasiswa yang akrab disapa Adven ini.

Peserta kemudian disajikan dengan persoalan terkait perubahan iklim. Delegasi melakukan penelitian sebelum konferensi dan merumuskan gagasan mereka, tentu saja dengan melihat melalui sudut pandang negara yang mereka wakili. Nantinya gagasan tersebut akan diperdebatkan dengan sesama peserta dalam forum.

17932390_1474890902541436_8622343328588890112_n
“Pada hari pertama, masing-masing peserta menyampaikan pendapat mereka terhadap Question a Resolution Must Answer (QARMA), yaitu revisi terhadap UN Urban Agenda dan Quito Implementation Plan serta memastikan penerapan mekanisme tersebut pada negara mereka,” ungkap mahasiswa Departemen Teknik Material ini.

Dalam simulasi ini, lanjut Adven, kedua puluh tujuh peserta kemudian terpecah menjadi dua kubu. Masing-masing kubu menyusun draft resolusi mereka secara terpisah. “Pemilihan draft resolusi dilakukan dengan sistem voting. Asyiknya, saya banyak menemukan trik bernegosiasi dan mempersuasi orang lain,” ujar Adven.

Tak hanya itu, Adven juga mengaku bangga dapat menjalin relasi baru. Para peserta di sana tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa sarjana saja. Tetapi juga meliputi mahasiswa pasca sarjana, akademisi, pejabat institusi pemerintah, karyawan NGO, dan berbagai macam pemangku kepentingan lainnya.

Selain itu, UN Habitat kali ini tidak seperti Model UN  biasanya. Terdapat beberapa sesi tambahan yang jarang ditemukan di MUN biasanya. “Saat itu ada beberapa games serta sharing session bersama Muhsin Syihab, Direktur Pembangunan, Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri,” terangnya berbinar-binar. (saa/ven)

ditulis dari https://www.its.ac.id/berita/101768/en

Live With The Earth As You Were NOT Human

During my life as a camper in Global Citizenship Camp in Mahasarakham, I was given a chance to have sharing session with an awesome person. He was Pharadon Phonamnuay (Opor Red) from the north of Thailand. He shared us his expererience about fighting against environment devastation.

He initiated an action to plant trees to save the environment from destruction. His initiative he started when he was a student. He found that his village is not as green as before. It was the day, he found that Ching Mai was filled with smoke. Because of people  did not understand about the environment, they kept cutting the trees  to open land for farming and used to produce smokes.

He was so sad knowing that the village he was born became that bad. People ignored to plant trees they kept produce trash. I could imagine how bad the environment he wanted to show us. At that time, I did not even believe that those thing happend in Chiang Mai. When I was living in Thailand, I always dreamed about go to Chiang Mai to see the nature because people kept telling me about its beauty.

However, he did not kept it as issue. With his commitment, he empower his colleagues to take an action to plant several trees. At that time, he found many obstacles such as the difficulties to find plant seedlings, the place to plant the trees, the people he could empower, or the permits to plant the trees in public areas.

It was not an easy task because he started it with only a few people. Then he tried to connect with local NGOs  to deal with the problems. One of their action was to challenge their friend to plant a tree near to a river. They had to plant a tree and ensured it would live till the next year.

So, in that challenge, they have to watch their tree and watered it if needed. The most interesting part of the challenge is jumping into the river. If the next year, the tree was would die, they have to jump to the river next to the tree. “We had several experiences of jumping into the river,” he said.

Nowadays, he had plant thousand trees around Chiang Mai. It helps the environment green and produce a lot of oxygen. Until now, he still continue his commitment to work for the environment. “Environment is live. If we keep it alive, we save our life,” opor said.

An Artist Who Make It Alive
Actually, opor is an artist. Opor obtained his bachelor in Architecture in Chiang Mai. He was an oustanding student during his study. He got a scholarship to study in Paris for months. He also went to USA and Japan for Jazz show. He play saxophon.

After his trip to Japan and America, he eager to travel around the world. He went to Europe and alone. He brought his saxophon and play it in public space. He said that, he earn a lot of money that support his travel life.

One day, he traveled to Russia. Because he only brought a  few money, the immigration did not let him to enter Russia. He could not able to explain because the staff in immigration did not speak english, and then he was send into jail. He was imprisoned for one day and then they let him entered Russia with no explanation.

From his traveling, he learned to understand human nature. He learned new culture and saw beautifull environment. His experiences knowing how our elderly people treated nature  made him love his action very much.

Today, he work as an entrepreneur and open art space in Chiang Mai. He still spare some of his time to work for environment. From planting trees, he also expand his action to clean the river water.

I was very inspired with his life. I know some people who work hard for money and gain a lot of success. However, this man showed me another point of live. Instead of work for rich, he work for the nature. What else is better that giving for other? He gives his life for planting tree, what about us?

Hold and Press

Kemarin baru saja selesai seminar proposal. Banyak sekali revisi yang harus saya kerjakan segera. selain itu masih harus bergulat dengan tugas tugas dan berjuang mencari bahan bahan TA.

Sempat juga disinggung dosen pembimbing tentang kesibukan kuliah yang akan sangat mempengaruhi proyek TA ku. Aku sendiri merasa banyak sekali tantangan yang akan kuhadapi.

Ada 21 sks mata kuliah yang kuambil semester ini. Totalnya adalah 7 mata kuliah. TA berbarengan dengan Kerja Praktek yang saat ini masih belum jelas juga dengan pengujian ECT terakhirnya. Selain itu ada lima mata kuliah yang harus kuhadiri, ditambah dengan kuliah bahasa mandarin 16 pertemuan dan kelas IELTS Online. Pekerjaan terakhir sebagai redaktur pun tak boleh kulupakan.

Senin kemaren aku bahkan sampai kelupaan satu kelas. Sangat disayangkan memang.  aku merasa semester ini merupakan semester terberat. Kadang aku ingin menyerah. ingin drop mata kuliah atau mengurangi hal hal kelas kelas yang lain.

Di sisi lain, aku juga berpikir, semua kegiatan yang kuambil memiliki substansi penting dan tak ada satupun yang sia sia. Bahasa mandarin adalah bahasa yang paling aku sukai. kapan lagi aku dapat akses kelas gratis selama 16 pertemuan? kalau ikut kursus diluar harus bayar jutaan.

Kelas IELTS sangat penting untuk persiapan beasiswa S2. Bisa dibilang sangat urgent untuk harus ikut kelas semester ini. dan terakhir, beban kulaih 21 SKS yang benar benar harus ku kejar untuk meningkatkan IPK.

Memang sangat berat, tapi bukan mahasiswa namanya jika hanya duduk santai dan tidak bekerja keras. Aku sudah jatuh bangun mengikuti perkuliahan di luar negeri. bersaing dengan orang orang yang ternyata jauh lebih pintar dariku baik segi akademik, softskill, manajement, dan sosialisasi.

Hari ini, bersaat teduh mengantarkanku pada pengalaman hidup Paulus. Tak perlu mengingat ingat apa yang sudah dilewati di belakang. baik kesuksesan maupun kegagalan. Yang perlu adalah fokus pada tujuan hidup didepan yang sudah Allah siapkan. Ia telah merancang segalanya.

Biarlah hari ini aku berjuang. Jatuh, terluka, maupun berdarah darah tak masalah bagiku. Asal, diakhirnya nanti, aku bisa mencapai tujuan yang telah Allah siapkan bagiku.

(My) Protagonist Strengths and Weaknesses

PROTAGONIST STRENGTHS
diplomats_Protagonist_ENFJ_strengths.png

  • Tolerant – Protagonists are true team players, and they recognize that that means listening to other peoples’ opinions, even when they contradict their own. They admit they don’t have all the answers, and are often receptive to dissent, so long as it remains constructive.
  • Reliable – The one thing that galls Protagonists the most is the idea of letting down a person or cause they believe in. If it’s possible, Protagonists can always be counted on to see it through.
  • Charismatic – Charm and popularity are qualities Protagonists have in spades. They instinctively know how to capture an audience, and pick up on mood and motivation in ways that allow them to communicate with reason, emotion, passion, restraint – whatever the situation calls for. Talented imitators, Protagonists are able to shift their tone and manner to reflect the needs of the audience, while still maintaining their own voice.
  • Altruistic – Uniting these qualities is Protagonists’ unyielding desire to do good in and for their communities, be it in their own home or the global stage. Warm and selfless, Protagonists genuinely believe that if they can just bring people together, they can do a world of good.
  • Natural Leaders – More than seeking authority themselves, Protagonists often end up in leadership roles at the request of others, cheered on by the many admirers of their strong personality and positive vision.

 

PROTAGONIST WEAKNESSES
diplomats_protagonist_enfj_weaknesses

  • Overly Idealistic – People with the Protagonist personality type can be caught off guard as they find that, through circumstance or nature, or simple misunderstanding, people fight against them and defy the principles they’ve adopted, however well-intentioned they may be. They are more likely to feel pity for this opposition than anger, and can earn a reputation of naïveté.
  • Too Selfless – Protagonists can bury themselves in their hopeful promises, feeling others’ problems as their own and striving hard to meet their word. If they aren’t careful, they can spread themselves too thin, and be left unable to help anyone.
  • Too Sensitive – While receptive to criticism, seeing it as a tool for leading a better team, it’s easy for Protagonists to take it a little too much to heart. Their sensitivity to others means that Protagonists sometimes feel problems that aren’t their own and try to fix things they can’t fix, worrying if they are doing enough.
  • Fluctuating Self-Esteem – Protagonists define their self-esteem by whether they are able to live up to their ideals, and sometimes ask for criticism more out of insecurity than out of confidence, always wondering what they could do better. If they fail to meet a goal or to help someone they said they’d help, their self-confidence will undoubtedly plummet.
  • Struggle to Make Tough Decisions – If caught between a rock and a hard place, Protagonists can be stricken with paralysis, imagining all the consequences of their actions, especially if those consequences are humanitarian.

Finding Satisfaction

“You will never be satisfied, except..”

Recently I and my internship partner were discussing about continuing study after finishing our bachelor degree. However I havent feel anything interesting about it this time. Eventhough I have been dreaming to study master in the state, but recently, I feel like  I lost that dream. I just have no more feeling about it.

Last week I know that my friend will continue their study abroad soon. some will  go to France, some to spain, some are currently in Turkey, and some are still pursuing their dream to study abroad. Eventhough I have been visiting Thailand twice, I just feel like I am not as lucky as them.

I really wanna  go far away from my hometown to a place where i can totally meet the ultimate new people. I never satisfied for what I have been achieve.

It is not like something that should be happened to me. This morning, from my morning devotion, I read about the Samaritan Girl who meet Jesus at Jacob’s well. I reflec to my life that I am kind of need water very much.  Once a day, I have to drink more than 2 liters water. if not, I will get sprue on my mouth. Means that I have to drink water every day.

Similiar to the story of samaritan girl, she needed the water that can satisfy her so that she would not ever be thirsty anymore.  She asked to Jesus and Jesus told her about himself. Jesus is the only reason for every satisfaction.

If today, I feel like I never satisfy, I have to remind myself to count the blessing He already gave my. It is a big reminder for me that I can still dreaming, but still have to learn more and more about counting how many times God already helped me facing every challenge in my life.

He gave me success either satisfaction for everything I asked for life.

Berburu Beasiswa Internasional Part 2

ISE merupakan fakultas favorit yang hanya terdiri dari empat jurusan, yakni Nano Engineering (NANO), Automotive Design and Manufacturing Engineering (ADME), Information and Communication Engineering (ICE), dan Aerospace Engineering (AERO). Saya yang sudah sempat berjanji tidak mengikuti seleksi lagi, tapi masih saja tergoda dengan progam ini. Saya tertarik betul dengan nanoteknologi dan, menurut saya, program ini sangat relevan dengan jurusan saya saat ini.

Sayapun akhirnya mengingkari janji. Saya segera mempersiapkan dokumen. Saya sempat pesimis dengan beasiswa ini karena deadline dokumen adalah tiga hari setelah pengumuman penerimaan aplikan. Padahal untuk memproses transkrip nilai paling tidak membutuhkan waktu seminggu.

Sayapun segera mengisi formulir, membuat surat motivasi, dan menyiapkan foto, sertifikat TOEFL dan foto kopi paspor. Kemudian saya menghubungi kepala jurusan saya untuk memberikan rekomendasi yang kemudian selesai esok harinya.

Saya berpikir keras untuk mendapatkan transkrip bahasa Inggris dalam waktu dua hari. Akhirnya saya melobi panitia seleksi beasiswa Dankook untuk mengembalikan dokumen saya. Awalnya panitia tak mau mengembalikannya karena dokumen tersebut sudah diarsipkan.

Sayapun tak berhenti di situ. Di hari terakhir pengumpulan saya melobi staff IO dan ternyata dokumen saya dikembalikan. Saya segera memisahkan transkrip dan menyelipkannya ke dokumen baru saya. Tepat pukul dua belas, saya kumpulkan dokumen tersebut di kantor IO.

Esoknya saya kembali dihubungi panitia untuk memperbaiki dokumen yang salah. Pukul sembilan pagi, saya sudah di kantor IO untuk memperbaiki dokumen. Saya menyelesaikan perbaikan sebelum pukul dua belas, sebab saya harus mengejar kereta api ke Jakarta untuk mengikuti South East Asia Model United Nation (SEAMUN) 2015. 

Dua minggu kemudian saya mulai gelisah dengan pengumuman beasiswa ini. Rasanya pengumumannya terlalu lama dan saya sempat pesimis. Saya mulai menyalahkan diri saya yang telah menghabiskan waktu, mengejar – ngejar dosen untuk menyiapkan aplikasi.

Hari-hari saya lewati dengan putus asa, penyesalan dan kekecewaan yang semakin menjadi-jadi.  Saya sangat menyesal melanggar janji saya dan semakin bertekad untuk fokus kuliah saja. Namun pada 28 Desember, sebulan setelah pendaftaran, saya mendapat email dari orang tak dikenal dengan judul “Announcement of 1 Semester Scholarship Program”.

Saya membaca email tersebut dengan perlahan-lahan. Kata demi kata saya cerna satu persatu berharap tak ada yang saya lewatkan. Saya sempat tak mengerti maksud email itu hingga akhirnya saya membuka file gambar lampiran pada email itu.

Saya sangat terkejut melihat nama saya terpampang di antara  sembilan orang lainnya. Saat itulah saya sadar bahwa saya mendapatkan beasiswa studi di Chulalongkorn University. Setelah membaca ulang isi email itu, saya lebih terkejut lagi karena selain mendapatkan beasiswa uang kuliah dan biaya hidup, Chulalongkorn University bahkan bersedia membiayai penerbangan pulang pergi bagi ke sepuluh penerima beasiswa ini.

Hati saya melonjak kegirangan, dan segera saya mengabari keluarga saya.  Saya berlari ke sana kemari, berteriak di kosan saya yang hanya dihuni sepuluh orang. Bak kuda lepas dari kandangnya, saya tak mampu menahan kegirangan saya hingga akhirnya saya berhenti karena kelelahan.

Malam itu, saya pun mulai menggambarkan kehidupan baru yang saya akan saya miliki di Bangkok. Pengalaman itu akan menjadi pengalaman tak terlupakan dalam hidup saya. Dari pengalaman ini, saya belajar untuk pantang menyerah. Sebab, dibalik kerja keras, selalu ada pengharapan.

*) Penulis adalah mahasiswa jurusan Materials and Metalurgical Engineering di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kini penulis magang sebagai jurnalis di Radar Surabaya.

Berburu Beasiswa Internasional

BERKULIAH di kampus bukanlah hal mudah. Kali pertama saya menginjakkan kaki di Surabaya, ada semangat menggebu-gebu di dalam dada. Setiap hari saya penasaran dengan perkuliahan di jurusan Teknik Material dan Metalurgi kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Karenanya, tak henti-henti saya melontarkan pertanyaan pada senior.

Ketika mengikuti masa orientasi, saya dikenalkan dengan berbagai kegiatan kampus yang dapat diikuti oleh seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa baru. Yang menarik bagi saya, tersedianya program internasionalisasi yang digalakkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kerjasama dan Hubungan Internasional, atau sering disebut  ITS International Office (IO).

Dari pengenalan masa orientasi, ternyata program internasionalisasi IO semakin merambah menjangkau mahasiswa lewat induksi di berbagai program lainnya. Sebagai mahasiswa baru, saya diwajibkan mengikuti berbagai program dan pelatihan dan dalam kegiatan itu. Topik utama tak pernah lepas dari internasionalisasi yang terus digalakkan IO. Wajar saja, saat itu, ITS  masih menyiapkan diri mengikuti ASEAN Economy Community (AEC).

Salah satu program internasionalisasi ITS adalah menyediakan platform bagi mahasiswa untuk merasakan atmosfer internasional. Hal ini diwujudkan dengan membuka berbagai peluang untuk studi ke luar negeri. Mendengar hal itu, saya yang tergila gila dengan pendidikan luar negeri, langsung jatuh cinta pada setiap kegiatan IO.

Saya mengikuti berbagai seminar, pelatihan, dan sesekali singgah ke kantor IO sekadar untuk bertanya tentang kesempatan mengikuti program internasional IO. Terdapat berbagai program beasiswa yang ditawarkan bagi saya, seperti konferensi internasional, konferensi pemuda, pertukaran budaya, program riset internasional, kunjungan kampus luar negeri, dan bahkan terdapat program pertukaran pelajar selama satu semester ataupun setahun.

Tertarik dengan pengalaman tinggal di negeri orang, saya pun memilih mencoba beasiswa pertukaran pelajar selama satu semester. Ternyata tak mudah menjebol program ini. Saya dihadapkan dengan berbagai penolakan dan kegagalan.

Beasiswa pertama yang saya lamar adalah pertukaran pelajar ke Dankook University di Korea Selatan. Saat itu, saya belum memiliki paspor dan nekat mengumpulkan dokumen yang dengan tegas menyaratkan kelengkapan paspor. Otomatis, aplikasi saya pun ditolak untuk pertama kalinya.

Seusai penolakan itu, saya tak lagi mencoba  beasiswa sebelum memiliki paspor. Saya memilih belajar bahasa Inggris menunggu liburan semester untuk pulang ke Toba mengurus paspor.

Selama satu semester saya belajar bahasa Inggris dengan harapan dapat menaikkan nilai TOEFL.  Saat kelas tiga SMA, saya coba tes TOEFL prediction di USU dengan nilai 443. Ketika di ITS, saya mendapat TOEFL 447. Namun, untuk mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar, minimal saya harus memiliki skor TOEFL 500.

Hal itulah yang mendorong saya rela bolak-balik ke UPT Bahasa dan Budaya ITS untuk sekadar melatih listening dan mengambil foto soal-soal TOEFL karena tak bisa dipinjam ataupun difotokopi.

Berbulan bulan saya harus bergelut dengan soal-soal itu. Karena tak ada uang untuk les bahasa Inggris. Saya harus belajar otodidak. Saya meminjam berbagai jenis buku dari perpustakaan dan latihan di UPT Pusat Bahasa dan Budaya ITS. Saya juga semakin sering berselancar di internet mencari tau berbagai program pertukaran pelajar.

Ketika liburan semester ganjil 2014, saya pulang kampung ke Desa Tambunan Parbagasan, Kampung Halaman saya. Sebelum kembali ke Surabaya, saya  menyempatkan singgah di Medan seminggu untuk mengurus paspor. Hingga akhirnya ketika terbang ke Surabaya, saya sudah memiliki paspor.

Sesampainya di Surabaya, saya masih melanjutkan belajar TOEFL menunggu pengumuman pembukaan beasiswa baru. Ketika sudah merasa penat belajar, saya pun mencoba tes dan berhasil mendapatkan skor 507. Dengan modal itu, saya semakin percaya diri mengikuti seleksi beasiswa.

Seleksi kedua yang saya ikuti adalah beasiswa pertukaran pelajar ke Kumamoto University di Jepang. Untuk mendaftar beasiswa ini, saya mengorbankan waktu belajar menghadapi ujian semester demi menyiapkan dokumen. Selain itu, saya pun harus mengeluarkan kocek ratusan ribu untuk mendapatkan sertifikat kesehatan, sebab aplikasi yang tidak lengkap akan digugurkan secara otomatis oleh panitia.

Meski demikan, beasiswa ini juga masih belum memberikan kesempatan bagi saya. Saking penasaran dengan seleksinya, saya menjumpai panitia dan menanyakan kualifikasi mahasiswa yang berhasil mendapatkan beasiswa.

Ternyata lebih dari seratus dua puluh mahasiswa mencoba beasiswa ini, meski kuota yang tersedia hanyalah untuk dua orang saja. Program ini betul-betul kompetitif. Selain itu, kedua orang yang mendapatkan beasiswa tersebut memiliki IPK di atas 3,8. Saya pun hanya menelan ludah ketika mengetahui IP mereka yang bertengger jauh di atas IP saya yang saat itu hanya 3,4.

Saking kesalnya dengan IP saya, saya pun mencari tau tips & trik untuk mendapatkan beasiswa dengan IP pas-pasan. Dari berbagai sharing pengalaman dan diskusi, saya disarankan untuk memoles Motivation Letter, Curriculum Vitae, dan Recommendation Letter saya.  

Ketika mempelajari cara memoles ketiganya, saya pun sadar betapa buruknya motivation letter saya diaplikasi sebelumnya. Karena itulah saya pun semakin sering membaca contoh motivation letter untuk mempersiapkan aplikasi saya yang berikutnya.

Beasiswa ketiga yang saya coba adalah pertukaran pelajar ke University of Porto,  di Portugal. Salah satu persyaratan administrasinya adalah memiliki IELTS 6.5. Saat itu saya masih nekat mengumpulkan dokumen dan menggantikan IELTS dengan sertifikat TOEFL saya. Kala itu saya berharap memiliki peruntungan besar dengan pengecualian pada sertifikat bahasa saya. Namun ketika pengumuman, saya hanya ditempatkan di jajaran cadangan penerima beasiswa.

Ketika pertengahan semester lima, saya semakin bosan dan sempat menyerah dengan  aplikasi beasiswa saya. Saya sempat berjanji untuk apply beasiswa satu kali lagi sebelum betul-betul berhenti, karena harus mempersiapkan tahun akhir.  Saat itu saya berencana lulus tiga setengah tahun.

Setelah saya mengikrarkan janji itu, beasiswa yang pertama buka adalah beasiswa dari Dankook University. Untuk kedua kalinya sayapun mencoba beasiswa ini. Dari puluhan pelamar, panitia menyaring lima mahasiswa yang berhak mengikuti seleksi wawancara dan salah satunya adalah saya.

Ketika mengikuti wawancara  saya sangat mempersiapkan diri dan tampil dengan tenang ketika menjawab pertanyaan interviewer. Namun saya kebingungan ketika ditanya jika ternyata beasiswa tidak ada, apakah saya akan tetap mengambil program ini.

Sontak saya kebingungan menjawabnya. Saya pikir, orangtua saya, yang hanya berprofesi petani,  tak akan sanggup membiayai hidup saya selama di Korea.  Saya pun memilih jawaban diplomatis bahwa saya akan tetap mengambil program tersebut dengan mencari perusahaan sebagai sponsor saya.

Seminggu kemudian pengumuman keluar dan saya lagi-lagi ditolak. Tak selesai di situ, saya masih penasaran dengan jawaban pertanyaan itu. Saya menjumpai mahasiswa yang berhasil mendapatkan beasiswa tersebut dan bertanya kasus yang sama. Ternyata orangtuanya siap menanggung semua pengeluaran jika memang beasiswa tidak turun dari pemerintah Korea Selatan.

Saya sangat merasa tak adil dengan hal itu. Sebab saya pikir tak seharusnya pertanyaan itu dilontarkan untuk program berbeasiswa. Saat itu saya betul-betul  menyerah dan putus asa. Sayapun mengeraskan hati untuk tidak mengikuti seleksi beasiswa lagi. Saya ingin fokus untuk setahun terakhir sebelum saya lulus.

Namun di tengah merosotnya semnagat saya, IO tiba tiba mengumumkan penerimaan aplikasi pertukaran pelajar ke Chulalongkorn University, kampus nomor satu di Thailand.  Program ini betul-betul menarik karena penerima beasiswa akan di tempatkan di International School of Engineering (ISE).

*bersambung ke Berburu Beasiswa Internasional part 2

 

Mengenal Primadona Zaman Jura

Tulisan ini merupakan bagian dari sharing pengalaman saya selama mengikuti program pengembangan kepemimpinan dalam menghadapi perkembangan dunia global. Program yang  bernama Global Citizenship Camp (GCC) ini diselenggarakan oleh Universitas Mahasarakham (MSU) di Thailand.

Di provinsi Mahasarakham, terletak sejauh 473 km dari kota Bangkok, ternyata banyak ditemukan fosil makhluk purbakala. Hal ini dibeberkan oleh seorang ahli geologi Thailand bernama  Varavudh Suteethorn. Pada tahun 2008, ia bersama dengan temannya warga negara Prancis, Eric Buffetaut melakukan penggalian fosil di daerah mesozoikum Thailand, yaitu Phu Noi.

Saat itu terdapat sekitar 20 fragmen tulang dinosaurus yang berhasil ditemukan. Hal ini membuat Varavudh semakin tergila gila dengan proyek penggalian fosil dinosaurus. Ia seakan tersihir oleh keindahan tulang belulang berusia jutaan tahun itu.

Pada tahun tahun selanjutnya, ia semakin gencar melakukan penggalian dan berhasil menemukan lebih dari seribu  fosil Sauropods, family dinosaurus berleher panjang,  rahang Carnosauria yang dikenal sebagai dinosaurus jenis predator, dan masih banyak lainnya.

Berdasarkan penelitiannya, dinosaurus hidup 225 juta tahun lalu dan menjelajahi dunia 150 juta tahun kemudian sebelum akhirnya benar benar punah. Fosil yang ditemukan di Thailand diperkirakan berumur lebih dari seratus juta tahun.  Hal ini mengindikasikan bahwa kawanan vertebrata raksasa tersebut pernah menginjakkan kaki di Asia sebelum akhirnya benar benar punah dari muka bumi.

Para peneliti Thailand telah melakukan ekspedisi ke gua gua, ke sungai, dan ke tengah hutan mencari fosil dinosaurus, vertebrata dan invertebrata jaman purba. Beberapa daerah yang telah dijelajahi adalah Khon Kaen, distrik Phu Wiang, Phu Kum Khao, serta Phu Noi di Kalasin.

Meski Varavudh berlatar belakang geologi, ketertarikannya akan dinosaurus mendorongnya banting setir menjadi paleontologi. Ia pernah  melakukan ekskavasi di Phu Wiang dan menemukan spesies baru Cretaceous.

Ia pun menamainya Phuwiangosaurus Sirindhornae. Ia mengambil nama belakang putri Maha Chakri Sirindhorn karena program tersebut didukung penuh oleh  putri Maha Chakri Sirindhorn.

Ia juga menemukan gigi dari spesies baru Carnosauria yang kemudian ia namai  Siamosaurus Suteethorni, mencaplok dari nama belakangnya sendiri.

Bertahun tahun bersinggungan dengan bangkai tulang dinosaurus, Varavudh pun belajar banyak hal tentang filosofi kehidupan. Seperti dilansir koran Bangkok Post ia menyatakan bahwa manusia pun bisa saja punah tiba tiba. “Dinosaurus hidup di muka bumi dalam jangka waktu yang sangat lama. Tetapi pada akhirnya punah juga. Hal ini harus menjadi peringatan bagi umat manusia untuk memperhatikan gaya hidup dan perilaku kita terhadap alam,” tuturnya.

Bukti geologis menunjukkan bahwa kepunahan dinosaurus di Thailand kemungkinan karena perubahan alam yang sangat drastis. Kekeringan yang mendadak dan cukup parah menyapu semua wilayah Thailand dan menciptakan kehidupan yang keras bagi tanaman dan hewan.

Terdapat juga bukti bahwa daerah timur laut Thailand pernah dilanda banjir karena naiknya permukaan laut. Dataran rendah di timur laut pun terblokir dan menciptakan lautan garam yang mendorong Dinosaurus harus bermigrasi ke utara sebelum akhirnya rela meninggalkan muka bumi pada zaman mesozoikum.

Saat ini, museum fosil telah menjadi bagian dari sistem pendidikan di kampus Mahasarakham. Sama halnya dengan pembangunan Museum Siridhorn di dekat lokasi penggalian fosil di daerah Phu Kum Khao yang telah menjadi objek yang wajib dikunjungi wisatawan. Museum ini menyimpan ratusan tulang belulang dinosaurus yang ditemukan di Thailand.

Sangat menarik rasanya beroleh kesempatan memegang tulang belulang berusia jutaan tahun itu. Sembari ikut mengikis lapisan batu di tungkai kaki dinosaurus, lantas saya berfikir, Thailand saja ada fosil dinosaurusnya, mungkin Indonesia dulu kecipratan kawanan raksasa itu. Apakah anda tertarik mencari tahu?