Maksimalkan Modernitas Pendidikan, Raih Banyak Prestasi Di Era Millenial

Hegemoni pendidikan dalam menopang fondasi masa depan tak bisa dipungkiri. Pendidikan yang semakin modern memiliki otoritas dalam membentuk kesuksesan para pelajar generasi Millenial. Lalu, bagaimana sebaiknya para Millenial memanfaatkan potensi modernitas dalam mempersiapkan masa depan yang lebih cerah?

Generasi Millenial adalah generasi yang dipersiapkan dengan modernitas pendidikan yang mengadopsi berbagai macam latar belakang budaya pendidikan hingga disatukan menjadi pendidikan modern.

Pendidikan modern yang disajikan bagi generasi Millenial adalah pendidikan yang menunjang humanisasi dan harmonisasi masyarakat  sesuai dengan tuntutan zaman. Seperti yang dijelaskan Prof. Dr. Muhammad Nuh, DEA pada Simposium Internasional PPI Timur  Tengah – Afrika pada April silam,  seiring dengan berkembangnya pendidikan modern, generasi Millenial lahir menjadi generasi yang menyukai modul pendidikan dibandingkan teori-teori berkepanjangan.

Ini menunjukkan, generasi Millenial dituntut menjadi kreatif menerjemahkan modul-modul terpisah menjadi satu kesatuan ilmu yang universal. Hal seperti ini, oleh Bill Gates disebut Connecting The Dots. Selain memanfaatkan modul modul pendidikan, generasi Millenial juga dapat mengoptimalkan potensi dengan   memanfaatkan teknologi informasi.

Salah satu  keahlian Millenial adalah memiliki insting kuat dalam mengoperasikan teknologi modern seperti gadget dan berbagai peralatan elektronik lainnya. Hal ini sebenarnya mampu menunjang prestasi Millenial. Dengan kemampuan mengoperasikan peralatan elektronik, para Millenial lebih cepat memperoleh informasi dan mengolahnya menjadi sebuah prestasi.

Selain itu, melalui pendidikan modern yang menawarkan pendidikan dunia maya, Millenial memiliki kesempatan belajar yang tidak terbatas. Ada banyak kesempatan belajar yang ditawarkan secara gratis dalam dunia maya. EDX, IndonesiaX , Coursera, Moocs,  dan beberapa platform lain adalah contoh yang sering digunakan Millenial. Melalui platform-platform ini, para  Millenial dapat mendobrak perbudakan kebodohan dalam zaman modern ini.

Disamping kebebasan mengakses pendidikan luar sekolah, para Millenial juga memiliki kebebasan tak terbatas mengakses kesempatan mengikuti program pelatihan, program pendidikan singkat, maupun informasi beasiswa. Melalui berbagai platform online, para Millenial dapat terhubung dengan  jutaan kesempatan belajar yang mana tak sedikit yang menawarkan program secara cuma-cuma.

Dalam sistem pendidikan modern, para Millenial juga diajarkan belajar berdasarkan prinsip kesenangan, kebebasan, dan minat.   Melalui prinsip ini, untuk meraih banyak prestasi, Millenial tak lagi perlu bersusah-susah belajar hal-hal yang dirasa tidak menopang masa depan. Melalui sistem ini, Millenial dapat mengoptimalkan kemampuan hanya pada hal-hal yang paling dikuasai saja.

Seperti yang dilansir pada Jawa Pos 7 April 2017, Millenial mencintai mobilitas tinggi dan modern nomadic.  Melalui gaya hidup nomaden, Millenial memiliki banyak kesempatan belajar dari tren yang berkembang di negara seberang, melihat perubahan di sisi lain provinsi, atau bahkan mampu mengubahkan daerah tertinggal lain melalui berbagai kegiatan sosial.

Traveling menjadi salah satu kesempatan bagi Millenial mengembangkan potensi sambil menikmati keindahan alam. Hal-hal seperti ini mampu merangsang daya kreativitas tak terbatas untuk melahirkan inovasi baru. Dengan sistem seperti ini, para Millenial sebenarnya mampu membentuk peradaban bangsa yang lebih cepat berkembang. Melihat potensi potensi saat ini, sudah sepantasnya sepantasnya para Millenial memiliki banyak prestasi. Caranya sangat mudah. Hanya dengan menjadi kreatif dan aktif memaksimalkan modernitas pendidikan saat ini.

Beasiswa Sexy Beasiswa Dataprint

Pernah kepikiran dapat beasiswa hanya dengan sedikit keringat? sebagai seorang pemburu beasiswa, saya merasa mencari beasiswa bukalah pekerjaan mudah. Ada banyak persyaratan yang harus dikumpulkan. Misalnya saja dokumen pembayaran uang kuliah, historis pembayaran air, listrik, pajak, ataupun harus menyertakan surat keterangan kurang mampu dari kelurahan tempat tinggal kita.

Bagi sebagian orang, hal seperti ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Tak sedikit juga yang akhirnya menyerah sebelum mencoba. Lalu pernahkan teman teman dengar program beasiswa yang hanya meminta kita menuliskan satu essay dan formulir saja? Kalau belum pernah simak baik baik beasiswa sexy yang satu ini.

Program beasiswa DataPrint adalah program CSR dari Data Print. Program ini telah memasuki tahun ketujuh. Sejak 2011 hingga 2016, DataPrint  telah sukses membantu ratusan pelajar meraih berbagai prestasi. Tak ingin berhenti disitu saja, DataPrint kembali membuat program beasiswa bagi penggunanya yang berstatus pelajar dan mahasiswa di tahun 2017.

Tahun ini, sebanyak 400 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi. Program beasiswa ini dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint.

Beasiswa ini terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 400 ribu, Rp 600 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.

Di tahun 2017 ini  ada hadiah khusus juga loh untuk 5 orang peserta yang paling banyak merekomendasikan program ini ke teman-teman. Jika nama lengkapmu dan asal sekolah atau kampus kamu tertera di formulir pendaftaran temanmu (nama pemberi rekomendasi), siap-siap deh kamu akan jadi pemenangnya di akhir periode!

Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi, segera daftarkan diri kamu melalui website www.beasiswadataprint.com. Jangan lupa cek juga website resmi DataPrint di www.dataprint.co.id.

Semoga info ini membantu dan mampu membuat teman teman semakin berprestasi. Selamat mencoba.

What Does Working Mean For A Christian?

As a final year student, I am very fragile thingking between continuing my study to master or securing a job for my future career at least for the next five years. I was so strongly standing on my idealism that I have to continue my study to master degree right after my graduation. However, I found some difficulties on running my final project which then broke my idealism. I gave up on study and wanted to run out from my project. That is why, I started to thinking on finding a job.

The first time I apply was a management trainee from an international company. However, I dont know whether I failed or what because the company has not sent me the info yet. The next time, I wanted to apply another management trainee from another international company. However, I contacted my senior asking about management trainee.

I really did not expect his answer that he said I should bring it into my prayer first. Day by day, I still struggle on continuing finding job or not, and uncoincidently my friend invited me to join their seminar about working.

In this seminar, I was reminded, that for a christian, working is not only about taking a job and securing future. But, working is about doing mission in the real life. The mission (greek: missio) here is a mission that given by God. Mission is the thing He wanted us to do from the perspective of our profesionality.

There is a big picture about God’s mission that is captured into a big picture called God’s Universal Mission, and as a Christian, we need to see from this perspective.

Learning from Revelation 22:1-2, The Jerusalem comes from heaven to the earth which means that there, people who died would not going to heaven. But, the heaven itself that came down to the earth and replacing it. People will stay in the new earth, that is why one of christian’s responsibility is to save the earth through our job. Then go and make it green since now.

Another thing I learnt was, there is nobody can change the world. But, we can only change the culture. Since culture changes by the age, we can change culture based on our age. Another additional point was, mostly people would spent around 35 years of working before retirement. Which means, most of our life is about working. So, connecting the dots, we can change the culture around us through our Job.

Then how we can do it?

A man who can make a change is the man that has already enough with himself. He has been enough regarding his sufficiency, fulness, and self-peace. Looking at Mother Teresa’s’s action, where she spent her life caring the poorest people from the poor. It is not because she has been securing her life into richness or saving a lot of money to secure her family. But, it was because she has the heart of Christ that make her enough with her self-sufficiency, fullness, and peace.

Regarding that three points, we have to understand that being a Christian in a working space is not about how you can save yourself. not only doing a right thing for yourself and improving your faith. it’s too egoistic.

But, through our work, we have to make a change in our society. Changing our working culture into serving by living God’s life. Changing ourself is critical to help us build our braveness to shout the calling of the one who has the Mission. The missions we are going to take from our job are integral mission to secure our christiany integrity. Therefore we can see the world as God see it, treat other on God’s way, and introducing God to other.

Then, what we can do?

Working is not about money, future, and family. Because He said that, He feeds us more that birds on the sky, fullfills our needs, and secures our family. It’s just about building faith on Him and let him do the rest for us. What we need to do is only doing his mission through our job. Still confusing about what we can do through our job?

It is good to spent at least a month to join a mission event. However, a year is much better. By joining mission trip we could learn how to commiserate people in need, then learn how to make impact to them. After that, we can back to our background and continue our work. If we can make a big impact, we can share gospel through our work. The last, we can also support other missionary through our donation or other stuff we can give to help them. Remember that as a person who has been discipled, it is our responsibility to support the life of God’s servant (aka missionaries).

Let’s make conclusion.
As a christian, securing a job means that we have to choose a job based on God’s universal mission on us. Then, through that job, we can change our culture  by acting more than people can expect from us (in the right way of course). Next, through our job, we can tell the gospel. (I called this personal missionary). It is good to make a time for joinin mission to change other life. If we are too busy, let other do that for us through our donation. Easy right? Then. Go and do your Job.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Balada Dana TA Anak Teknik Material

Sebenarnya cuma pengen curhat aja masalah dana TA yang aku kerjain satu semester ini. Jadi, proyek TA saya adalah membuat material untuk filamen 3D printing tulang buatan. Proyek ini tidak dibiayai sama dosen, jadi semua biaya ditanggung penumpang.

Awalnya kupikir gak terlalu berat. Ternyata setelah menjalaninya lumayan bikin pusing juga. Selain TA nya sendiri yang udah lumayan ribet, aku pun harus ekstra mikir dana untuk TA ini.

Bahan utama material ini adalah Polylactic Acid (PLA). Material ini susah banget dicari di Indonesia. Tapi berhubung dosenku punya PLA, akhirnya aku make itu aja. Untuk melarutkan PLA, aku pake pelarut kloroform. Saat menulis ini, harga kloroformnya 68.000 per 100ml. Sejauh ini, aku sudah menggunakan 300ml kloroform untuk trial, dan 500ml untuk bikin spesimen uji SEM, XRD, FTIR.

Aku juga masih harus bikin spesimen untuk uji kekerasan dan uji tarik. Saat ini sih, kloroform yang ku siapkan sebanyak 500ml. So, sejauh ini kloroform yang kubeli udah menghabiskan kurang lebih 700.000 (ada pengurangan untuk pembelian kloroform jumlah banyak).

Selain kloroform, aku juga pernah membeli tulang sapi, larutan lain dan perlengkapan seperti petridish, crucible, soda kue, tepung maizena, dan lain lain. So, sejauh ini sudah menghabiskan sekitar  dua juta.

Hari ini aku mencoba bikin perkiraan dana untuk pengujian spesimen. Untuk materialnya aku bakal make uji SEM EDX sekitar 350.000 per jam. let say bakal uji selama dua jam untuk enam sampel. Jadi butuh dana sekitar 700.000. Kemudian uji FTIR dan XRD masing masing 50.000 per sampel. Karena memakai enam sampel, maka untuk uji keduanya butuh 600.000.

Selain itu, aku juga bakal uji DMA di laboratorium bahan Fisika MIPA ITS. Ininih, lumayan mahal, per sampel dihargai 200.000. Kalau pake enam sampel aja udah butuh 1.2 juta. Ditambah lagi, uji anti bakteri di lab Mikrobiologi di Biologi ITS. Per petridish, dihargai 350.000. Padahal butuh minimal  6 petridish, jadi sekitar 2.1 juta.

Kalau dihitung hitung, pengujian aja butuh 4.6 juta. Beli bahan bahan dan perlengkapan lain, butuh 2.5 juta. Total dana minimal untuk TA ini sekitar 7.1 juta. And this number make me totally dying. Jadi, saranku sih buat yang mau ambil TA, mending ikut proyek dosen yang mau biayain TA anda. Supaya gak capek capek mikirn dana dan lebih fokus pada hasil akhirnya.

RESENSI: #STRUGGLES

 

“Kita diciptakan bukan untuk bumi, melainkan kekekalan. Kita diciptakan bukan untuk disukai melainkan memperlihatkan kasih. Kita diciptakan bukan untuk menarik perhatian kepada diri sendiri melainkan memberikan kemuliaan bagi Allah. Kita diciptakan bukan untuk mengumpulkan followers, melainkan untuk follow Kristus”

 #Struggles adalah buku terbaru yang ditulis oleh Craig Groeschel, seorang pendiri dan pendeta senior di LifeChurch.tv. Buku ini ditulis atas fakta banyaknya orang yang merasionalkan keintiman teknologi gadget dalam kehidupan bersosialisasi. Menurut Craig, tak sedikit orang yang secara tidak sadar telah memperhambakan dirinya terhadap gadget mereka, namun tidak mau benar benar sembuh dari cengkeraman teknologi itu sendiri. Ia memandang bahwa, dengan adanya sosial media saat ini, banyak orang menjadi lebih berpusat pada diri sendiri dan meninggalkan Kristus dalam hidupnya.

Dalam penulisan bukunya ini, Craig mengambil beberapa kenangan yang ia miliki dimana ia banyak melewatkan momen penting hanya karena pengaruh gadget dalam genggamannya. Menurut saya, buku ini sangat relevan dengan kondisi kehidupan sosial saat ini. Saya sebagai pengguna aktif sosial media merasa buku ini secara jujur menguak sisi negatif penggunaan sosial media yang secara tidak sadar terlalu sering dimaklumi masyarakat. Secara telaten ia membuka sisi lain kehidupan sosialisasi yang berubah dengan adanya aplikasi sosial media saat ini.

Buku ini dengan jelas mempertanyakan kesungguhan hati pembaca untuk meninggalkan ketuhanan mereka terhadap teknologi. Selain mempertanyakan kesungguhan hati, Craig juga menawarkan kesembuhan rohani melalu langkah terjun langsung pada komunitas dan berinteraksi secara natural dan memperkaya diri dengan komunikasi yang intim dengan sesama teman. Melalui buku ini, Craig juga secara tegas ingin mengatakan betapa pentingnya kita untuk terdiskoneski dengan sosial media dan memulai menjalin hubungan yang nyata bersama teman.

Secara mendalam ia mengevaluasi cara kita terjalin saat ini. Mulai dari mengirimkan pesan, tweet, hingga timbulnya perasaan ogah untuk berjumpa langsung. Craig ingin mengajak pembaca kembali pada kehidupan kristiani yang saling menguatkan melalui kebiasaan interaksi langsung, sharing pergumulan hingga memberikan kontak fisik yang menenangkan kita dari kedukaan.

Dalam buku ini, Craig tidak serta merta mengutuk sosial media, tetapi mengajarkan kita bagaimana menggunakan media itu sesuai dengan fungsinya. Dengan mengangkat pengalaman pengalaman pribadi, ia secara perlahan mengajak pembaca bernalar logika mengoreksi kehidupan yang saat ini telah berakar pada individualisme.

Buku ini mudah dimengerti dan dipahami oleh pembaca dari semua kalangan. Penulis secara telaten memasukkan contoh riil yang ia temukan dalam kehidupan pribadinya. Contoh contoh tersebut juga mudah ditemukan dalam kehidupan kita pada umumnya, namun kita kurang jeli dengan hal itu.

Buku setebal 250 halaman ini, terbagi dalam delapan jenis pergumulan yang secara garis besar menggambarkan kehidupan kristiani yang terkikis oleh aktivitas sosial media yang saat ini mewabah. Mulai dari pergumulan dengan membanding bandingkan, hingga pergumulan dengan distraksi yang tiada henti, penulis Divine Direction ini menawarkan solusi aplikatif berdasarkan pemahaman alkitabiah yang fundamental.

Membaca buku ini, rasanya seperti berkomunikasi dengan banyak orang dengan perspektif yang berbeda. Untuk memulai setiap bab, Craig selalu menyematkan empat pendapat dari orang orang tertentu terkait bab yang akan ia bahas. Beberapa diantaranya adalah Alfred Nobel, Bunda Teresa, Frederick Buecher, Oprah Winfrey. Pembahasannya selalu diakhiri dengan pesan alkitabiah yang secara tegas dan lugas mengajak pembaca untuk kembali berpegang pada firman.

Buku ini cukup menarik karena dilengkapi dengan berbagai hastag. Dari pada menambah hastag pada sosial medianya, Craig lebih memilih menuliskan hastag pada tulisannnya dalam buku ini. Hastag-hastag tersebut menjadi poin poin penting yang ingin ia sampaikan pada bab dimana ia menempatkan hastag tersebut. Yang paling menarik dari buku ini adalah adanya kesimpulan serta lampiran yang salah satunya adalah langkah pengamanan terhadap distraktor online dari sosial media. Jika Anda tidak mau menyembah sesuatu yang tidak pernah memuaskan Anda, maka bacalah buku ini.

“Kesembuhan terjadi ketika hasrat kesembuhan lebih besar dari ketidakmampuan itu sendiri”

 

 

Sebagai seorang jurnalis, saya banyak bersinggungan dengan orang orang penting. Salah satu hal yang paling krusial yang harus saya dapat dari para narasumber  adalah kepercayaan. Saya yakin, ketika saya mendapat kepercayaan dari narasumber, semua informasi yang saya inginkan akan dengan mudah saya peroleh.

Salah satu ketakutan saya adalah kehilangan kepercayaan. Kepercayaan orang lain itu sangat mahal harganya. Sekali menerima kepercayaan orang lain, saya harus bertanggung jawab penuh. Saya harus berikan yang terbaik dari dari dalam diri saya sendiri.

Tapi selalu ada situasi saya merasa tidak perform dengan baik. Saya kehilangan kepercayaan orang lain. Tidak hanya itu, saya juga kehilangan kepercayaan diri sendiri.

Saya selalu berfikir keras supaya hal itu tidak terjadi dalam hidup saya. Mencari dan menemukan ide serta membangun kreativitas merupakan pekerjaan yang memakan waktu. Kadang, saya harus kembali meyingkap hal hal di masa lampau, mencari yang terselip, menemukan yang terlewat, dan memperhatikan setiap sudut dengan lebih teliti.

Bagi saya kreativitas selalu muncul dari hal yang tidak diduga. Hal hal random seperti menari, duduk berkontemplasi, dan berdiam di bawah guyuran air selalu menciptakan ketenangan dalam diri saya. Momen momen seperti itulah saya dapat menemukan sesuatu yang baru yang membuat saya selalu tampil lebih berbeda. Saya percaya dengan memiliki ketenangan dalam diri, saya dapat membangkitkan kembali kepercayaan diri saya.

Saat ini, saya belajar mengemban kepercayaan dari orang lain. Mengerjakan proyek Tugas Akhir, menyelesaikan laporan pengujian di perusahaan Kerja Praktek, dan mempersiapkan diri menjelang riset di Korea membuat saya setiap hari merasa semakin kurang percaya diri. Mungkin benar bahwa saya harus kembali menguji diri, mencari sampai mana batas saya dapat menggali kreativitas dan mengasah kemampuan mengejar asa yang lebih tinggi.

Saya percaya, setiap hari yang terbatas dalam hitungan jam ada maksudnya. Setiap hari, akan selalu diawali dengan mentari pagi yang bersinar tanpa malu. Mungkin, dengan itulah, alam juga mengajak kita bersemangat setiap pagi dan menaklukkan siang dengan kobaran semangat yang membara. Hingga malam tiba, kita akan beristirahat untuk kembali demi esok yang lebih cerah.

Alam saja memberi janji dan memberi kepastian akan kepercayaan kita padanya. Lalu mengapa saya harus menyerah dan menyurutkan kepercayaan orang pada saya?

_adven @Kantor ITS Online
ketika semua laporan sedang mangkrak

Ketika Korea Memanggil~

Masih ingat dengan masa aku uring uringan karena ditolak exchange ke Korea? hahhaaa. Itu sudah lama sekali ya. Waktu itu masih semester 5 akhir.  Secara apappun, sebenarnya aku tidak telalu tertarik dengan Korea Selatan. Bukan karena cewek cewek nya yang katanya super cantik, aku juga bukan penggemar K-Pop dan K-drama. Hanya saja emang, aku suka aja dengar nama Dankook Unibersity. hhahahahaha. alasan yang tidak masuk akal.

Kalau dari segi teknologi, aku juga sebenarnya tertarik mempelajari industri teknologi barang elektronik. Secara siapa coba yang gak ngefans dengan Samsung? Merek asal korsel ini menjadi satu satunya produk yang berasni nantangin Apple dalam dunia industri barang elektronik. Yang lain cuma ngikut ngikut doang.

Aku juga berharap, suatu ketika nanti, aku bisa membangun sebuah perusahaan telepon genggam buatan anak bangsa yang kelak akan digunakan oleh pemuda bangsa ini. (ecieehhhh).  #gueserius

Nah, kali ini, ternyata mimpi itu bakal terwujud. Tuhan beri aku sedikit harapan bahwa sebelum aku lulus, aku akan mencicipi sedikit cita rasa Korea. Ya, bumbu bumbu “K” bakal mewarnai dunia perkuliahanku. Mungkin aja, hidupku bakal sedikit lebih mello kayak K-Drama. atau mungkin, K-Pop bakal sedikit mempengaruhi aliran musikku. hahahha

Belum pasti sih sebenarnya. Tapi aku masih menaruh harapan pada Karya Tuhan. Aku berserah aja sih, kalo emang Chosun bakal milih aku jadi salah satu kandidat penerima beasiswa GKS tahun ini, aku bakal bersyukur banget. Tapi kalo gak lolos juga gak papa sih. Paling juga langsung wisuda dang ngejar beasiswa S2.

Tapi buat teman2 yang baca curhatan kali ini, mohon doanya ya. Seleksi terakhir dari pihak GKS dan Chosun University. Kalau mereka OK, maka kami bakal terbang ke Korea bulan Juli 2017. so, plis didoain ya teman teman. heheheh

Thankyou.
God Bless Us.

Sreenshot Satu Layar Penuh di Web

Hari ini aku iseng iseng buka salah satu grup pesbuk dan nemu info freelance. Ada beberapa option yang bisa di-apply, tapi aku cuma tertarik sama dua pilihan aja. Yaitu penulis dan penerjemeh.

Sebenarnya masih dirundung seramnya Tugas Akhir dan bingung dengan berbagai aplikasi S2, tapi aku pikir, apa salahnya mencoba. toh, nanti kalo ada kerjaan kan akhir akhirnya duit juga. Lumayan buat nebelin dompet dua dimensi ini. hehehhee

So, setelah sibuk ngisi ngisi data, eh ada permintaan bikin portofolio. Aku sebenarnya gak pernah bikin portofolio, tapi karena adapermintaan ini, akhirnya aku kepikiran deh screenshot tulisan tuliasan aku yang dimuat aja.

Akhirnya jadilah aku surfing website ITS untuk mencari tulisan tulisan yang pernah aku edit serta portal berita sorot daerah. Kebetulan selama aku magang di Radar dulu, berita beritaku aku kirim juga ke sorot daerah dan Puji Tuhan semua naik web. Kalo di Radar, gak mungkin banget berita anak magang naik koran, soalnya sudah ada juga reporter yang liputan itu. kebetulan tulisam tulisan kami selalu masuk dapur jam 7 malam keatas. Padahal jam 6 sore aja, itu koran udah di-lay-out. Artinya berita dari reporternya udah harus masuk sebelum jam 4. makanya dipastikan tulisan kam anak magang gak bakal mungkin bisa masuk koran.

Balik ke cerita, demi screenshot tulisan itu, aku pun mulai cari cari cara biar bisa screenshoot satu layar penuh web berita itu. selama ini aku pakenya snipping tool atau print screen doang. Padahal kan itu cuma nangkap gambar yang keliatan di layar. Nah, kalo buat yang ini, aku butuh satu layar penuh ketangkap dengan beritaku terlihat jelas.

Setelah cari cari beberapa opsi, akhirnya aku nemu https://web-capture.net/convert.php
portal ini menyediakan layanan capture web hanya dengan kopi paste link web yang ingin kita screechoot satu layar penuh. Kemudian setelah klik capture web page, nanti akan tampil seperti gambar di bawah. Kemudian bisa tinggal klik download dan akhirnya, akan terdownload secara otomatis.

Capture

Serunya, screenshoot yang kita inginkan bisa dipilih dalam bentuk JPEG, PDF, TIFF, BMP, PNG, dll. asik kan, Selain tanpa harus donwload software ato pasang adds on di web, kita udah bisa screenshoot hanya dengan kopi pasti link. Makanya aku suka banget layanan ini. kalo teman teman butuh screenshoot satu web, bisa coba cara ini ya. Selamat mencoba.

Refleksi Paskah 2017

Hari ini Tuhan beri kesempatan kembali mengikuti perayaan paskah alumni perkantas. Sungguh Tuhan berkati aku mengenal Kak Herna dan Kak Meli. Bersama mereka, kami bersama sama ke GKI Pregolan Bunder.

Hari itu, aku sedikit lebih santai sehingga punya banyak waktu mencari info tentang studi lanjut maupun info tentang pengembangan diri. Banyak hal yang kumimpikan untuk aku lakukan dalam waktu dekat ini. Semua demi kesuksesan, keberhasilan, dan kelak aku bisa menjadi orang besar. Dipandang baik dan memiliki derajat yang lebih tinggi di masyarakat.

Seperti biasa, aku selalu menanti nantikan kotbah Kak Harry Limanto. Ia memang selalu berbeda dengan evangelis yang lain. Kalimatnya selalu menusuk, tepat sasaran dan selalu membuat saya terpaku.
Disaat aku memimpikan kuliah tinggi di luar negeri, mengejar karir hingga di PBB atau menjadi associate professor di Amerika, ia membuka perspektif lain.

Kembali, mengingat ketertinggalan Papua, Kalimantan dan daerah daerah pelayanan lainnya, aku merasa bukan siapa siapa. Banyak kekurangan fasilitas, teknologi, SDM dan tenaga pelayan lainnya di kota kota tertinggal di timur.

Kota kota tersebut menjadi kota kota yang tidak mengenal Tuhan karena kurangnya orang yang menyerahkan diri untuk melayani. Tak hanya itu, orang orang yang mau mambantu finansial mupun materi tak mau mengarahkan pandangan demi misi Tuhan. Hanya sedikit yang dibukakan untuk misi ini. Sungguh, aku merasa sangat sedih.

Hari ini, aku masih pegang 3 juta sisa uang untuk TA. Karenannya, aku beranikan diri ambil bagian dalam hal ini. Aku berkomitmen mendukung Misi Papua dan misi membangun Rumah Persekutuan di Wamena. Aku akan belajar berkomitmen melalui doa dan persembahan. Mungkin belum banyak yang bisa aku bantu dari persembahan, tapi biarlah aku belajar memulai hal seperti ini mulai dari sekarang. Komitmenku selama 6 bulan terdekat ini, kiranya Tuhan yang selalu megningatkan.

Selain itu, Kak Harry juga mengingatkan kekudusan diri sebagai Anak Anak Allah. Bukan karena kristiani makanya kudus. Tetapi karena Dia yang telah memanggil kita adalah kudus, makanya kita harus kudus juga. Susah memang, tapi apa salahnya belajar mendisiplinkan diri menjadi pribadi yang menjaga kekudusan diri?

Sebab, Ia juga telah menebus hidup keberdosaan kita melalui darahnya yang kudus. nature kita sebagai manusia berdosa diganti menjadi nature Allah yang kudus. Jadi, mungkin kan kita hidup kudus. Yah, kira kira begitu.

Langkah riil yang aku ambil dari kotbah ini adalah menjaga kekudusan dengan disiplin saat teduh, disiplin doa, dan memusatkan semua hal dalam Tuhan. Selian itu untuk misi, aku akan belajar membantu doa dan komitmen persembahan. Mungkin tidak seberapa, tetapi yang penting adalah belajar melahirkan membudayakan memberi sebelum menjadi kaya dan menjadi orang orang yang memperhitungkan nilai perpuluhan. semoga tidak jadi orang demikian.

Oiya, selamat paskah buat semua. Semoga paskah kali ini menjadi turning point untk kembali hidup baru, menjadi segar kembali dalam semangat mencari Tuhan dan menjalankan misi pelayanan. Tuhan berkati.

Salam.

The Lighthouse and The Sea

Memasuki semester akhir, pikiranku semakin bercabang. Tawaran beasiswa dan pilihan tujuan hidup semakin abu abu. Apakah pada akhirnya harus cari kerja, lanjut pendidikan, atau terbang ke negara asing untuk belajar bahasa.

Hari ini, disela sela sibuknya mengerjakan proposal TA, aku menympatkan sedikit waktu untuk kembali bersaat teduh. Sedikit merenung tentang topik Mercusuar hari ini.

Aku membayangkan kehidupan ditengah laut sebagai kehidupan yang romantis. Dikala siang, yang terlihat adalah hamparan air biru cerah yang menyejukkan. hembusan angin yang menderu di dinding kapal menjadi teman berbincang. Dikala mentari sudah kembali keperaduannya, keindahan itu diganti dengan hadirnya ribuan sahabat yang berbisik dari kemilau cahayanya yang tampak dari kejauhan.

Dalam seketika, romantisme laut bisa berubah menjadi mimpi buruk yang tak dapat terbendung. Aku membayangkan diri di tengah tengah lautan dengan ombak bergejolak tinggi. Angin menebas dinding perahu membelah, mencabik cabik lautan dan menghempaskan perahu kesana kemari. Sangat mengerikan.

Dalam kondisi demikian, sulit rasanya bertahan. Tak ada pertolongan dari luar. Tak ada pula hal yang dapat dilakukan untuk mengehentikannya.  Hanya bisa menunggu ia meredam emosi, kembali menjadi lautan dengan sejuta kasihnya.

Kala kesesakan ditengah lautan, kita juga mendapatkan kembali harapan ketika melihat seberkas cahaya mercusuar. Jika kita telah melihatnya, emosi kembali bergejolak untuk kembali berjuang, mendayung perahu kearahnya. panggilannya seakan cukup untuk membuat kita melabuhkan perahu disisinya.

Mercusuar selalu melahirkan harapan ketika kita sedang terpuruk ditengah lautan. Ia menjadi pemantik semangat dikala kita  tak tau harus berbuat apa. Ia juga menuntun kita dikala kita hilang harapan. Ia menyelamatkan hidup ribuan orang yang terhilang.

Begitu juga hidup yang kurasakan saat ini. Terhempas kesana kemari. jatuh tenggelam dan dilemparkan kembali ke permukaan. Bisikan dan godaan semakin kental dan hidup semakin tak terarah.

Cahaya mercusuarnya belum nampak. Kilatannya tak pernah mengelus perahu melewati celah celah papan. Hanya harapan dan doa yang meneguhkan. Biarlah waktu yang menjadi saksi diantara kami. Kala nanti ia nampak, aku akan memandang padanya. mendayung perahu kearahnya, bersandar di dindingnya, dan menaruh harapan hidup di puncaknya.